Rabu, 06 Februari 2013

Relias : 1C Sebuah Awal



“Hei Argea, bayi kecil itu mengikutimu lagi!” ujar Maras pada Argea ketika mereka bermain. Dia menunjuk sosok bocah kecil berambut merah yang berlari-lari menuju Argea. Wajah Argea memerah melihat bocah itu datang menemuinya dengan tersenyum. Diletakkannya bunga-bunga yang dia rangkai bersama Maras.
“Dia sudah bukan bayi lagi!” tukas Argea pada temannya itu. Sementara Maras terkekeh melihat Argea yang mendatangi bocah kecil itu dengan bersungut-sungut. Dari jauh dia menikmati pemandangan itu.
“Mau apa kau?” tanya Argea pada bocah itu. Bocah itu tersenyum menggembungkan kedua pipi merah gendutnya. Dia mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan setangkai bunga pada Argea.
“Main...kakak ayo main!” ajak bocah itu pada Argea. Argea meraih bunga di tangan anak itu dan kemudian menggendongnya.
“Aku masih main dengan Maras, kau mainlah sendiri!” ujar Argea pada bocah itu. Tiba-tiba bocah itu berteriak-teriak histeris seraya memukul-mukul Argea.
“Main....! Kakak main!” teriak bocah itu seraya menjambak rambut Argea. Argea kemudian berteriak kesakitan dan mendorong bocah itu dari menjauh dari dirinya..
“Jangan memaksa! Aku tak mau bermain denganmu!” bentak Argea yang membuat kedua bola mata hijau anak itu berkaca-kaca. Tak lama kemudian suara tangis anak itu meledak membuat riuh suasana di pinggir hutan.
Tangisan itu terdengar sampai ke dalam rumah Argea. Ibu Argea bergegas keluar melihat asal tangisan yang sudah dia ketahui siapa pemiliknya.
“Argea, apa yang kau lakukan pada Relias?” tanya ibu Argea sembari menggendong bocah itu yang masih menangis, Relias.
“Dia menggangguku bu! Dia memaksaku untuk terus bermain bersamanya, padahal aku masih bermain dengan Maras!” jawab Argea bersungut-sungut, sementara Relias masih terus menangis di pelukan ibu Argea.
“Relias hanya merasa kesepian! Semenjak Maras berkunjung kemari, kau tak pernah bermain dengan Relias sama sekali!” tukas ibu Argea sembari membawa pergi Relias yang masih tersedak-sedak oleh tangisannya sendiri. Argea termenung melihat Relias yang semakin menjauh dalam pelukan ibunya. Ditatapnya bunga pemberian Relias yang masih dia pegang.
“Dia manja!” ujar Maras pada Argea sembari mencibir ke arah Relias. Argea menatap sebal pada Maras dan membuat Maras merasa salah tingkah.
“Dia tidak manja! Dia hanya kesepian!” bentak Argea pada Maras. Maras terkejut dan mengambil langkah mundur melihat kemarahan Argea. Tak lama kemudian Maras berlari pergi dari Argea menuju ke dalam rumah Argea. Sementara Argea termenung sendiri menatap bunga pemberian Relias. Sebuah bunga berwarna kuning dengan 8 helai kelopak. Bagian tengah bunga itu berwarna kuning kemerah-merahan. Bunga Kerscea. Argea menatap jauh ke dalam hutan dan segera berlari ke dalamnya. Sementara itu Maras memperhatikan Argea dari kejauhan.
“Mana Argea?” tanya Delia, ibu Maras yang heran pada kesendirian Maras.
“Dia membosankan, meninggalkanku begitu saja!” ujar Maras sinis yang membuat ibunya semakin heran.
“Kalian bertengkar?” tanya ibu Maras lagi
“Dia gila!” jawab Maras singkat sembari berjalan menuju kamarnya. Ketika itu dilihatnya Relias yang masih menangis dalam pelukan ibu Argea. Dilihatnya ibu Argea berusaha membujuk Relias dengan mainan kesukaannya, tetapi Relias masih tetap menangis sambil memanggil-manggil Argea.  Terlintas rasa sebal pada Relias di hati Maras dan ditinggalkannya pemandangan itu menuju kamarnya.
  Delia menghampiri Jan’segian yang masih sibuk menenangkan Relias. Dibelainya kepala Relias dengan lembut dan dilihatnya kedua mata hijau Relias. Sesaat kemudian Relias kembali tenang dan kemudian tertidur dalam pangkuan Jan’segian.
“Maaf merepotkanmu!” ujar Jan’segian pada Delia yang hanya dibalas dengan sebuah senyuman. Jan’segian mengerti arti tatapan mata Delia tadi. Itu merupakan kekuatan Delia dalam memanipulasi seseorang yang dilihatnya.
“Itu sama sekali tidak merepotkan. Aku hanya melakukan seperti yang biasa kulakukan pada Maras.” jawab Delia sembari tersenyum. Jan’segian tertawa ringan menanggapi candaan Delia. Dia kembali membelai kepala Relias.
“Tampan sekali bukan? Dialah kebanggaanku!” ujar Jan’segian. Delia meraih tangan kecil Relias yang menggenggam erat baju Jan’segian.
“Benar-benar mirip dengan tuan Putri. Sungguh kasihan anak sekecil ini harus jauh dari ibunya.” Jawab  Delia. Dada Jan’segian berdegup kencang. Terlintas kekhawatiran didalam hatinya. Jan’segian mempererat pelukannya pada Relias.
“Kali ini akulah ibunya! Apapun yang terjadi dia adalah anakku tanpa mengurangi akan adanya tuan Putri dalam kehidupan Relias. Aku akan menyayanginya sama seperti aku menyayangi Argea anak kandungku. Sementara ini biarkanlah dia menganggapku sebagai satu-satunya ibunya!” ujar Jan’segian. Delia tercenung mendengar apa yang dikatakan oleh Jan’segian. Hatinya bergemuruh menanyakan apakah dia akan mengalami perasaan yang sama seperti Jan’segian bila tuan Putri menitipkan Relias pada dirinya.
   “Tapi sampai kapan? Sampai kapan kau akan menyimpan rahasia tentang keberadaannya yang sesungguhnya? Sampai kapan kau biarkan pangeran kita ini hidup tanpa mengetahui semua penglihatanmu yang sebenarnya?” tanya Delia cemas. Jan’segian terdiam mendengar pertanyaan Delia. Dilihatnya Relias yang tertidur dipelukannya.
Teringat Jan’segian akan waktu dimana dia bertemu pertama kali dengan Relias 3 tahun yang lalu. Dia teringat akan teriakan Argea yang masih berumur 6 tahun malam itu. Ketika itu hatinya bergemuruh dipenuhi pertanyaan akan semua keputusan tuan putri. Hatinya dipenuhi ketakutan akan kehidupan keluarganya setelah dia menerima Relias. Tetapi ketika dilihatnya wajah Relias semua pertanyaan itu seakan sirna. Dia mampu merasakan semua kebahagiaan dalam hidupnya. Tetapi setelah itu kegelapan terasa dalam hati Jan’segian dan Jan’segian tahu arti daripada kegelapan itu.
“Mungkin sampai pada saat itu tiba. Saat dimana dia sudah mampu menentukan semua pilihannya sendiri. Saat dimana dia harus mampu menjaga semua hal yang dianggapnya penting dan juga dirinya.” Jawab Jan’segian lirih. Delia terpaku menatap Jan’segian dan kemudian memeluknya.     
“Itu akan sangat berat dan akan penuh kesakitan. Sanggupkah kau menerima semua itu? Aku yakin dengan kekuatanmu kau bisa merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya pada anak ini.” Ujar Delia. Jan’segian tersenyum dan membelai wajah Relias.
“Aku bisa merasakan apa yang akan terjadi padaku dan keluargaku, tapi aku sama sekali tak bisa merasakan apa yang akan terjadi pada Relias. Jalan takdirnya begitu rumit seperti jalinan benang kusut dan hanya dia sendiri yang mampu mengurainya. Semuanya terjadi hanya atas pilihannya sendiri. Pangeran kecilku yang malang. Aku bisa melihat kehidupannya penuh liku akan kehilangan orang-orang yang sangat dia kasihi.” Jelas Jan’segian. Delia mulai meneteskan air mata.
Diantara suku Eria, suku penjaga Hergesa, Jan’segian adalah salah seorang yang mampu meramalkan masa depan. Dan kali ini yang dikatakannya adalah tentang kematian. Bukan hanya satu tapi beberapa orang yang akan menjemput mautnya karena pengorbanannya pada pangerannya.
“Kegelapan semakin menyelimuti daratan ini, bisa-bisa keberadaan suku Eria akan segera diketahui. Padahal tuan putri sudah mengorbankan dirinya untuk kita semua. Tapi sepertinya itu masih tak cukup. Satu-satunya harapan kita hanya pada pangeran kita ini.” ujar Delia. Jan’segian memegang tangan Delia yang bergetar karena ketakutan.
“Bukankah suamimu datang kemari untuk membicarakan hal itu? Raja Bandreas adalah kegelapan itu, tapi aku merasakan kegelapan yang lebih pekat setelah itu. Kurasa peramal suci juga merasakannya. Tapi mereka sama sekali tak bisa melihat siapa kegelapan itu.” Jawab Jan’segian.
“Maksudmu kekuatan raja sekarang bukanlah kegelapan sesungguhnya?” tanya Delia yang dibalas sebuah anggukan oleh Jan’segian.
“Sebuah kekuatan kegelapan lain mulai timbul dan kurasa semakin hari semakin kuat. Pada akhirnya kegelapan inilah yang akan mengejar keberadaan Relias. Karena itu aku mohon padamu, gunakan kekuatanmu untuk menolong Relias.” ujar Jan’sergian.
“Apa maksudmu? Kau memintaku untuk menjadikan orang lain sebagai korban pengganti Relias? Aku rela berkorban untuk Relias, tapi ketika aku mati maka keberadaan Relias yang sesungguhnya akan segera diketahui musuh!” tukas Delia sengit. Kekuatannya memang bisa memanipulasi keberadaan seseorang tetapi hanya apabila digantikan dengan seseorang lain.
“Maka dari itu gunakanlah aku! Sampai pada saat itu tiba, gunakanlah aku! Saat ini kegelapan itu masih belum bisa mengetahui keberadaan Relias yang sesungguhnya. Aku tak tahu mengapa. Tetapi ketika saat dimana keberadaan Relias mulai diketahui, aku mohon jadikanlah aku penggantinya. Sampai pada saat dia bisa bertahan sendiri. Sampai pada saat dia berumur 19 tahun aku harus bisa melindunginya!” Delia terhenyak, melihat kebulatan tekad Jan’sergia. Tapi, dia tidak mampu mengorbankan sahabatnya sendiri.
“Kau gila! Aku akan melakukan hal itu pada musuh, bukan pada sukuku sendiri!”
“Tapi ketika kau melakukannya pada musuh itu akan mudah diketahui! Satu-satunya penghambur aura paling baik adalah orang yang paling dekat dengan Relias sendiri! Itu aku!” jawab Jan’sergian.
“Dengar Jan! Saat ini Relias akan aman karena keberadaan tuan putri! Beliaulah penghambur aura Relias yang paling kuat!”
“Tapi kekuatan tuan putri kurasakan semakin lama semakin lemah! Dia harus membagi kekuatannya untuk melindungi Relias dan hal ‘itu’!”
“Lebih baik kita hentikan pembicaraan ini! Saat ini para pria sedang berunding akan masa depan kita. Kau tak perlu merisaukan hal-hal itu!” bentak Delia pada Jan’sergian.
“Kumohon berjanjilah melakukan itu!”
“Kau gila!”
“Kumohon Delia! Hanya kau yang bisa! Sekali ini aku memohon padamu!” paksa Jan’sergian sembari memegang tangan Delia. Air mata Jan’sergian menetes di pipinya, sementara lengannya yang lain tetap merengkuh Relias.
“Hanya bila saat itu tiba!” jawab Delia pasrah. Sebuah senyuman tersungging di bibir Jan’sergia.
“Hanya bila saat itu tiba.” tegas Jan’sergian.
Delia memeluk Jan’sergian, sementara itu Argea terpaku dibalik pintu. Tercenung mendengar semua perkataan ibunya. Jauh didalam hatinya dia merasakan apa yang dirasa ibunya. Dalam darahnya mengalir juga darah ibunya. Dia merasakan semua kekhawatiran ibunya.
“Apa yang kau lakukan?” tiba-tiba Maras sudah berada di dekatnya. Menatap Argea tajam. “sudah lepas dari bocah itu?”
“kau membenci Relias Maras? Kenapa?” tanya Argea melihat wajah sahabatnya yang bersungut-sungut melihat Relias dipangkuan Delia.
“Dia merebutmu dari aku! Semenjak dia ada, kau seakan tak butuh aku!”
“Maafkan aku, tapi jangan benci dia! Dialah tujuan keluarga kami nanti! Harapan kita semua! Bahkan nyawakupun akan kuserahkan untuknya!”
“Hentikan! Aku tak akan pernah memaafkannya apabila itu terjadi! Argea, aku sangat menyayangimu selain keluargaku! Jangan pernah kau mengatakan akan pergi meninggalkanku! Lebih baik aku juga tiada seandainya kau pergi” Maras memeluk Argea begitu kuat.
“Maras, kalau kau tidak ada lagi siapa yang akan melindungi Relias?”
“Aku sama sekali tidak peduli dengan bocah itu!”
“Setidaknya demi diriku Maras!”
Maras terdiam. Hatinya begitu bimbang menatap Argea. Argea yang masih begitu muda sudah memikirkan Relias begitu jauh. Tiba-tiba terdengar Relias terbangun, merengek-rengek memanggil nama Argea.
Argea menatap Maras begitu hangat sebelum akhirnya mendekati Relias. Dari balik pintu Maras melihat Relias yang tertawa bahagia melihat Argea muncul membawakan mahkota dari bunga yang dia buat sebelumnya. Argea tersenyum dan itu bukan karenanya. Selama ini hanya Argea yang menjadi temannya bermain. Dengan sifat Maras yang begitu keras membuat anak-anak sepantarannya menjauhinya. Apalagi wajahnya yang cukup cantik membuat banyak anak-anak perempuan lain cukup iri.
Pertemuan mereka yang pertama ketika keluarga Argea datang ke perkampungan suku ras Eria. Saat itu Argea dan Maras baru sama-sama berumur 4 tahun. Argea membantu Maras yang dipenuhi lumpur karena baru saja terjatuh akibat dijahili anak-anak perempuan lain. Argea membersihkan lumpur yang berada di badan Maras dengan menggunakan bajunya. Sambil tersenyum Argea menenangkan Maras yang ingin menangis.
Sejak saat itu Maras begitu memuja Argea. Argea begitu polos dan menyayangi Maras apa adanya. Maras begitu menantikan saat-saat bertemu Argea yang tinggal jauh dari perkampungan suku Eria karena orang tuanya harus menjaga perbatasan. Dia menyukai tarian Argea. Bagi Maras tarian Argea lebih indah dari tarian gadis suci suku Eria.
“Aku akan menjadi peramal suci ketika dewasa. Oleh karena itu, aku juga harus banyak melatih tarianku”
“bukankah peramal suci tidak perlu harus menari. Ketika kau menjadi gadis suci kau akan mempelajarinya!”
“Bukankah kau mengatakan padaku bahwa kau menyukai tarianku Maras? Aku berharap semua orangpun begitu. Sehingga, apapun hasil ramalanku nanti, mereka akan cukup terhibur.” Ujar Argea sambil tersenyum.
“Kau tidak takut menjadi seorang peramal suci Argea? Kau tidak akan bisa memiliki seorang suami seumur hidupmu!”
“Bukankah kau akan tetap menyayangiku meskipun aku tidak memiliki suami!” jawab Argea sambil terkekeh. Maras tersenyum.
“meskipun aku memiliki suami, kau akan tetap menjadi yang nomer satu!” ujar Maras. Mereka tersenyum berdua, terkekeh dan kemudian bercanda lagi.
Semua itu kebahagiaan Maras, sampai ketika Relias muncul. Argea sedikit melupakan Maras, dan itu sangat mengganggu Maras.Bagi Maras, Relias mengambil Argea dari dirinya. Relias begitu mengganggu pikiran Maras.
“Maras, kemari! Lihat Relias menyukaimu! Dia tersenyum melihatmu!” panggil Argea. Maras tersenyum sinis melihat Relias, tetapi didekatinya mereka berdua. Asalkan ada Argea, apapun yang terjadi akan Maras hadapi.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar