Minggu, 27 Januari 2013

5. Biji Kopi 5 : Cowok Kopi



“Ini sudah sedikit keterlaluan,” ujar Mila kepadaku yang sedang terbaring di atas tempat tidur UKS. Kepalaku yang tadinya terasa pening sekarang berangsur membaik. Bau desinfektan yang cukup tajam membuat kesadaranku jauh lebih baik daripada beberapa saat yang lalu.
“Mil, kepalaku masih pusing. Jangan teriak sekeras itu…,” ujarku lirih sambil masih terhuyung membetulkan posisi tidurku.
“Apa kau tahu kalau Pak Dedi sudah cukup merasa tersiksa dan menyatakan bahwa hari Kamis adalah hari yang sangat melelahkan baginya?”
“Bukankah kami sudah sepakat?”
“Ya dan kenapa kau masih mengalami hal ini? Bahkan Pak Dedi sama sekali tidak meminum ‘itu’ seharian ini demi kau, muridnya!”
“Ini bukan soal aku dan Pak Dedi,” elakku sambil sedikit demi sedikit memulihan kesadaranku. Kesadaranku yang selalu terenggut setiap mencium aroma itu. Aroma kopi.
Pak Dedi, guru Fisika kami yang baik hati selalu membawa secangkir kopi panas ke dalam kelas setiap dia mengajar saat siang hari. Alasannya tentu saja untuk membuatnya tetap terjaga sepenuhnya ketika hari mulai menggerogoti stamina. Dan hari pertama dia membawa gelas kopi itu, adalah hari pertama dia membuat salah seorang muridnya pucat hingga hampir pingsan, Aku. Sejak saat itu dia mengalah untuk tidak membawa cangkir kopinya ke dalam kelas dan memilih untuk meminumnya di luar. Dan ketika kami berdekatan hingga aku bisa mencium aroma kopi yang keluar dari mulutnya, itulah hari pertama dia melihat pipi muridnya menggembung menahan muntah. Akhirnya kami memiliki kesepakatan tak terucap tentang Kopi.
“Terus, Kalau bukan Pak Dedi, siapa?” tanya Mila lagi.
Aku merasakan kesadaranku sepenuhnya telah kembali. Perlahan aku mulai bangkit dari posisi tidurku walau dengan sedikit payah. Mila dengan sigap membantuku dan mendudukkanku dipinggir kasur. Tak lama diapun sudah duduk di sampingku sembari menyangga punggungku.
“Apa kau tahu alasan kenapa aku tidak bisa menerima kehadiran bau kopi di sekitarku?” tanyaku yang di jawab gelengan Mila. Selama 3 tahun kami berteman, dia hanya tahu bahwa tubuhku seakan begitu apatis terhadap kopi. Mila, remaja yang sama sekali tak peduli alasan-alasan suatu masalah dan cenderung berpikir tentang penyelesaiannya. Kadangkala aku cukup terbantu dengan sikapnya yang masa bodoh itu. Membuatku tak perlu mendengarkan gosip-gosip dari mulutnya.
“Dulu, ketika aku masih SMP, aku punya seorang teman kecil. Cowok…dan lumayan ganteng…ah tidak… sangat ganteng malahan. Kami kenal dari semenjak belum sekolah sampai satu sekolah ketika SMP. Dia anak teman Papaku dan dia tetanggaku juga. Kami cukup dekat dan hampir sangat dekat,” aku menghela nafas. Mengingat lagi semua kejadian yang sedikit membuatku merasa galau.
“Apa dia jahat?” tanya Mila. Aku menggeleng.
“Dia baik. Satu-satunya masalah adalah ketampanannya. Juga keramahannya kurasa,” jawabku yang membuat Mila tertawa terbahak-bahak
“Gimana bisa cowok ganteng sama ramah jadi masalah besar buat kamu Si?”
“Tentu aja bisa, kalau kamu punya temen sekelas yang sirik sama hobi nge-bully!”
Mila menghentikan tawanya dan mulai menatap tajam ke arahku. Terlihat bahwa dia sangat bingung mendengarnya.
“Maksudmu? Apa yang mau kamu bilang Sisi?”
“Intinya setiap cowok teman kecilku itu mendekati aku, maka setelah itu aku harus bersiap menerima tekanan dari para cewek yang mengidolakan dia.”
“Hubungannya dengan kopi?” selidik Mila. Wajahnya masih belum menunjukkan kepuasan. Aku menghela nafas pelan. Mengingat saat-saat itu kadang begitu berat bagiku.
“Dia punya aroma kopi, Mila. Entah parfumnya, atau aroma mobil, yang jelas dia beraroma seperti kopi,” jelasku pada Mila. Mila mengangguk perlahan. Tapi matanya masih menunjukkan rasa penasaran.
“Setiap kali dia datang menemuiku entah untuk meminjam atau menanyakan kabar atau hanya sekedar bercanda maka setelah itu hariku akan buruk. Bisa dibilang setiap aroma kopi itu muncul maka aku akan mendapat siksaan.”
“Seperti apa?”
“Sekedar di labrak, kadang di kunci di kamar mandi, tas yang ada di tong sampah…,”
“Itu gila! Kenapa kau tak melawan? Kau punya kemampuan beladiri yang cukup untuk sekedar melawan beberapa orang.”
“Ketika aku harus pindah, cewek itu ku beri pelajaran habis-habisan di luar sekolah. Selama ini aku menahan supaya tidak menimbulkan cela. Tapi begitu lepas dari sekolah itu, aku punya kesempatan. Hasilnya dia menangis setiap melihat wajahku, bahkan tak mampu untuk mengaku pada siapapun tentang perbuatanku padanya.”
“Kau cewek pendendam,” ujar Mila sambil tesenyum licik, “ lalu kenapa kau masih trauma?
“Entahlah Mil, yang jelas bau kopi sangat menyiksaku,” ujarku lirih.
“Lalu apa yang membuat kau seperti ini saat ini?”
Aku menghela nafas lagi. Masih ragu untuk mengatakan pada Mila. Tapi itu jelas tidak mungkin mengingat sifat pantang menyerah Mila.
“Kau tahu anak baru yang tadi dikenalkan Pak Dedi?”
“Jangan bilang kalau…,”
“Ya, dia si cowok kopi. Akar traumaku….,” jawabku singkat. Dan Mila tercenung mendengarnya.
****
Menghabiskan satu jam mata pelajaran di UKS tidak membuatku bisa menghindar dari si pria kopi, Mahendra Yudistira. Begitu aku dan Mila memasuki kelas, cowok itu sudah berada dibarisan tengah dan cuma berbeda satu bangku dariku. Tapi setidaknya aroma kopi yang keluar dari tubuhnya tak tercium hidungku. Tapi kesialan datang ketika jam istirahat ketika dia mendatangi bangkuku dan Mila.
“Sisi kan? Ini aku Hendra, masih ingat kan?” ujarnya begitu datang ke sebelahku. Kulihat beberapa cewek mulai memandangku dengan pandangan iri. Aku mengangguk pelan.
Wajahnya semakin tampan begitu pula badannya yang semakin tinggi, apa yang selama ini dia lakukan untuk membuat badan itu semakin tegap? Fitness? Basket? Dia pasti bisa melakukan semua itu.
“Gimana kabarmu…?” belum selesai aku mengucapkan kalimatku, aroma kopi yang mulai tercium dari tubuhnya membuat jantungku berdebar keras. Perutku serasa di kocok dengan hebatnya yang langsung membuatku merasa mual. Tanpa menunggu kata permisi darinya aku berlari meninggalkannya bersama Mila.
“Kenapa Sisi?”
“Mungkin gejala morning sick,”jawab Mila sekenanya sambil berlari menemuiku di toilet.
Aku memuntahkan semua sarapanku di toilet. Mila yang datang langsung menepuk-nepuk pundakku. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keadaanku. Tingkah yang sangat menyebalkan bagiku.
“Aku mendengarnya tadi!”
“Soal apa?” tanya Mila seakan tidak tahu.
“Soal morning sick!” sentakku. Dia menyunggingkan senyum malu-malunya.
“Hanya itu yang terlintas di kepalaku. Aku gak mungkin bilang ke dia kalo kehadirannya membuatmu mau muntah kan?” Mila membuat alasan yang tak terbantahkan olehku.
Aku duduk di atas kloset yang baru kusiram sementara Mila berdiri menatapku yang begitu menyedihkan.
“Kau tahu ini tak bisa terus berlanjut kan?”ujar Mila.
“Aku tahu…,” ujarku lirih
****
Hari-hariku selanjutnya dipenuhi dengan kegiatan menghindari si cowok kopi. Mulai dari masuk kelas tepat ketika bel berbunyi dan pulang segera setelah bel berbunyi. Jam istirahatpun menjadi jam sangat kubenci. Aku harus segera berlari dan bersembunyi di toilet atau menunggu sampai kantin steril dari kehadirannya. Suatu hal yang sebenarnya tak bisa terus kulakukan. Dan itu terjadi ketika pelajaran Biologi mengharuskan aku sekelompok dengannya. Itu berarti mengharuskan kami melakukan kerja kelompok bersama. Mengharuskan dia berada jauh lebih dekat dariku dari posisinya saat ini.
“Baiklah, kita kerjakan besok lusa di café dekat sekolah saja bagaimana?” tawar Eno pada kami. Café, membuat dia akan berada cukup jauh dariku. Paling tidak aku bisa memilih posisi yang paling jauh darinya.
“Setuju!” teriakku sembari berlari pulang sebelum rasa mualku semakin menjadi.
Perjalanan pulang membuatku bisa mengutuk semua rasa traumaku. Sebetulnya aku sangat merindukan semua kedekatan kami seperti dulu lagi. Aku begitu senang melihatnya muncul kembali. Aku begitu senang ketika dia menyapaku.  Tapi aku tak mungkin muntah dihadapannya begitu aroma itu tercium. Sebuah sentakan di tanganku menyadarkanku dari lamunan. Sosoknya yang baru saja kubayangkan sudah berdiri di sebelahku. Peluhnya terlihat menetes di pinggir keningnya.
“Aku mencarimu dari tadi! Sudah lama kita tak berbincang. Aku selalu kehilangan dirimu ketika jam istirahat,” ujarnya begitu manis. Hatiku melambung ketika dia mengatakan selalu berusaha mencariku. Tapi aroma kopi yang samar-samar mulai muncul membuyarkan semua kesenanganku yang sesaat tadi.
“Maaf tapi aku ada janji dengan seseorang. Kita ketemu besok di sekolah ya!” ujarku terburu-buru sebelum rasa mual itu muncul. Dia tampak tersenyum masam. Tangannya yang menggenggam lenganku dilepaskan perlahan. Menyisakan rasa panas di lenganku.
 “Baiklah, aku cuma mau bilang kalau kerja kelompok kita diubah nanti sore jam 5. Iko tidak bisa datang kalau kerja kelompok itu dilakukan lusa,” ujarnya kecewa. Rasa mual mulai menjala di tenggorokanku seiring dengan aroma kopi yang semakin mencuat keluar dari tubuhnya.
“Oke..oke…, aku bisa nanti sore,” ujarku terburu-buru.
“Kau mau ku jemput? Kebetulan aku membawa motor jadi..,”
“Tidak perlu! Bye!” teriakku sambil berlari menjauh darinya sebelum dia menyelesaikan perkataannya.
Aku berlari meninggalkannya sendiri. Berlari hingga dia tak terlihat kemudian berbelok ke rerumputan. Memuntahkan semua isi perutku di sana. Sial! Sekali lagi aku melewatkan kesempatan bagus.
****
Bencana itu semakin terlihat nyata di hadapanku sore ini. Ketika di café hanya ada kami berdua. Ketika dia mengatakan bahwa dia berbohong padaku tentang perubahan jadwal kerja kelompok kami menjadi sore ini. Ini seperti berita kiamat bagiku.
“Aku harus bicara padamu Si, kau selalu menghindariku. Apa aku punya salah padamu?”
Jarak kursi kami yang dipisahkan meja café cukup membuatku tidak terlalu mencium aroma kopi yang keluar dari tubuhnya.
“Tidak…tidak ada! Memangnya kapan aku menghindarimu?” tanyaku pura-pura bodoh. Dan aku benar-benar terlihat bodoh. Bahkan nenek-nenek koprol pun tahu bahwa aku menghindarinya. Seandainya hakim Bao melihat kesaksianku maka dia akan segera berteriak, “KAU BERSALAH ANAK TOLOL!!!! SEGERA RASAKAN HUKUMAN PUKUL PANTAT 100 KALI!!!” dan aku menangis meraung-raung memohon pengampunannya.
“Apa ini gara-gara kelakuan Tita dulu?” tanyanya membuyarkan lamunanku tentang pantatku yang dipukuli hakim Bao. Tita, Tita siapa? Aku kemudian ingat cewek yang menangis meraung-raung setiap melihatku atas balasan dari semua kejahilannya.
“Tidak! Ada apa dengan Tita?” aku berusaha berbohong lagi. Tiba-tiba dia menggeser kursinya ke sebelahku dan itu sangat gawat! Aroma kopi yang sedari tadi kuhindari mulai muncul menusuk hidungku. Aku berusaha mengalihkan konsentrasiku dengan membayangkan taman bunga warna-warni dengan wangi taman. Tapi yang muncul malah bayangan hakim Bao yang bersiap memukul pantatku sambil membawa segelas kopi.
“Aku minta maaf Si, aku benar – benar tidak tahu tentang kelakuan Tita saat itu. Aku tak pernah mengerti bahwa semua kesialan yang terjadi padamu akibat ulah Tita yang cemburu, aku…SISI!”
Teriakannya tak kuindahkan ketika aku berlari meninggalkannya menuju toilet. Rasa mualku begitu mendera dan bila kubiarkan saja maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Aku pingsan di hadapannya, aau aku muntah di hadapannya. Yang paling parah bila terjadi kemungkinan aku memuntahinya kemudian pingsan. Maka tanpa mengambil resiko aku segera berlari ke toilet.
“Sisi, kau baik-baik saja?” terdengar suaranya di luar toilet. Kujawab dengan suara muntahanku. Dia terdiam sesaat kemudian memanggil namaku kembali ketika suara muntahanku terhenti.
“Maaf, bisakah kau meninggalkanku?” pintaku dari dalam toilet.
“Aku akan mengantarmu pulang!” ujarnya. Itu tawaran yang sangat menyenangkan. Menaiki motornya berdua. Memegang pinggulnya sambil sesekali bercanda, mengenang masa lalu. Mengagumi punggungnya yang begitu lebar dan kokoh, kemudian memuntahinya. Oh…, itu tak boleh terjadi.
“Tidak, aku akan pulang sendiri. Tolong segera pergi!” tolakku separuh berteriak agar dia dengar.
Sempat senyap sesaat sebelum tiba, tiba dia berucap lirih,”maafkan aku Si…”
Kenapa nada suaranya begitu pilu? Apa yang terjadi. Ku segera berlari keluar dan menemui meja kami sudah kosong. Mataku terasa panas karena ingin menangis, tapi beberapa orang melihat kearahku yang terlihat panik. Mungkin mereka berpikir aku lupa membawa dompet dan tak bisa membayar. Tapi aku tak peduli. Aku menyesali perkataanku padanya tadi. Ingin rasanya berteriak, “HAKIM BAOOO… INI BOKONG SAYAAAA….!!!!”
****
Setelah kejadian kemarin Hendra mulai menjauhiku. Bahkan ketika Mila menyapanya ketika kami berpapasan dia seakan tak melihat sosokku. Aku merasakan hatiku terasa sakit setiap dia tak mengindahkan kehadiranku. Apa ini juga yang dia rasakan beberapa hari yang lalu? Aku merasa sangat menyesal.
“Tenang saja, besok dia kan bakal kumpul bersama kta mengerjakan tugas biologi,”ujar Mila,”kau lupa?”
Aku teringat akan kesempatanku besok. Benar, aku tinggal membut alasan yang masuk akal seperti sakit atau baru saja terjatuh dan mendapat gegar otak ringan karena mengantuk setelah semalaman menonton film cina Hakim Bao di tivi lokal. Tinggal melewati satu hari saja dan aku bisa menyatakan semua alasan konyolku tadi kepadanya.
Tapi akhirnya semua alasan itu terkuci di dalam pikiranku saja. Sore ini dia tidak datang. Eno menyerahkan bagiannya ketika kami berkumpul.
“Tadi siang Hendra pergi ke rumahku untuk mengerjakan bagiannya. Dia gak bisa ikut kerja kelompok sore ini,” ujar Eno santai. Tapi hatiku bergejolak dan menemukan kenyataan bahwa dia membenciku. Si cowok kopi membenciku.
***
“Apa menurutmu kau tidak pantas mendapatkannya?”
Aku melotot ke arah Mila ketika dia mengatakan hal itu. Sahabatnya bersedih karena seorang pria baru saja membencinya dan dia mengatakan hal seperti itu. Aku sedikit merasa menyesal menyediakan waktuku untuk curhat kepadanya dan saudarinya di kamar Mila sore ini daripada menonton film kesukaanku, Hakim Bao.
 “Kau suka dia! Itu jelas!” ujar kakak Mila tiba-tiba. Wajahnya sangat mirip dengan Mila hanya saja lebih tua. Seorang mahasiswi psikolog yang menghadapi semester-semester akhir kehidupan kampusnya.
“Aku pikir juga gitu mbak!” sahut Mila.
“Aku enggak!” sanggahku sengit melawan semua pendapat mereka.
“Trus kenapa nangis? Harusnya kamu senang bisa lepas dari orang yang bisa membuatmu jadi mesin muntah sepanjang waktu,” aku ingin menyanggah perkataan kakak Mila tapi itu akan membuat Hakim Bao muncul di bayanganku untuk memukul pantatku lagi sebanyak 100kali. Semua yang dikatakan Kakak Mila terasa benar.
“Kenapa aku selalu mual di dekat dia? Dia yang membuat aku trauma dengan bau kopi selama 3 tahun terakhir.”
“Kukira itu efek dari penolakanmu atas perasaanmu yang sesungguhnya,” ujar kakak Mila.
“Sebaiknya malam ini kau pikirkan perasaanmu Si. Besok kau temui dia,” usul Mila padaku. Aku memeluknya erat sedikit terisak.
“Mil,” kupanggil namanya pelan dalam pelukanku. Dia menjawab dengan erangan singkat menunggu lanjutan perkataanku.”Nonton Hakim Bao yuk!”
Dan aku sudah berada di bawah kasur dengan sebuah bantal di mukaku.
****
Undangan Mila pada cowok kopi itu untuk menemuiku di taman belakang sekolah dipenuhi olehnya. Dia berdiri tepat dihadapanku. Secara lebih terperinci berdiri tepat 4 meter di hadapanku. Jarak yang cukup aman untukku supaya tak mencium aroma kopinya.
Wajahnya terlihat masam melihatku yang berdiri cukup jauh darinya. Tapi ini harus kulakukan. Aku harus mengatakan semuanya tanpa ada interverensi muntahan mendadak yang terjadi. Ketika dia berusaha maju selangkah untuk mendekatiku maka aku akan mundur selangkah.   
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya sinis. Aku menghela nafas pelan. Berusaha mengatur semua emosiku.
“Ini tentang kejadian beberapa hari yang lalu. Ah tidak, ini soal kejadian yang sebenarnya sudah lama,” ujarku. Dia menatapku tajam.
“Bukankah sudah jelas kau membenciku. Maka aku akan menjauh darimu seperti yang kau harapkan!” ujarnya sambil melengos pergi. Aku yang panik melihat kepergiannya tanpa sadar berlari ke arahnya dan meraih lengannya yang kokoh.
“Bukan begitu! Ini gak seperti yang kau pikirkan!” ujarku berteriak dan tanpa sadar aku menceritakan semua hal tentang rasa traumaku pada aroma kopi. Dia tercengang mendengarnya. Tak lama aku baru tersadar bahwa aroma kopi dari tubuhnya mulai memasuki hidungku lagi. Membuatku sangat mual dan pergi menuju rerumputan terdekat untuk menumpahkan semuanya.
Rasa malu menerjangku, sekarang dia tahu bagaimana kondisiku sebenarnya. Sambil tetap terduduk di atas tanah aku mulai terisak. Dia mendekatiku pelan tapi akhirnya dengan kesadaran, menjaga jarak dariku.
“Maaf, aku tak tahu kalau kejadiannya seperti itu. Kurasa memang sebaiknya aku tak mendekatimu lagi Si,” aku mulai menangis mendengar dia mengatakan hal itu.
“Sebenarnya aku sangat senang bertemu denganmu lagi setelah kita berpisah selama 3 tahun. Kau benar-benar sahabat terbaikku ketika itu Sisi. Aku sangat menyesal atas apa yang Tita lakukan hingga membuatmu jadi seperti ini. Maafkan aku Si,” ujarnya lagi
“Sebetulnya bukan Tita yang menyebabkan aku menjadi seperti ini. Dia sudah menerima pelajaran dariku dan aku juga sudah melupakan semua perlakuannya. Kukira ini semua karena kesalahanku sendiri,” ujarku sambil tetap terduduk membelakanginya. Aku takut melihat ekspresinya jika aku mengatakan semuanya.
“Maksudmu bagaimana?”
“Aku sepertinya menolak semua kehadiranmu, bukan karena Tita, tapi karena mengingkari perasaanku sendiri. Karena sepertinya aku sudah menyukaimu dari dulu tapi begitu takut mengatakannya padamu. Dan Tita hanya subyek yang mengingatkanku akan kebodohanku sendiri.”
Suasana menjadi sangat hening. Aku sama sekali tak berani menoleh ke arahnya. Hatiku berkecamuk memikirkan apa yang saat ini Hendra pikiran. Apa dia akan langsung menganggapku cewek aneh dan meninggalkanku? Apapun yang terjadi aku merasa pasrah karena aku sudah tidak punya pilhan saat ini.    
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba dia berteriak. Aku menoleh spontan ke arahnya dan terlihat dia sudah berlari menjauh. Bagus, tepat seperti yang kupikirkan. Setelah ini aku akan mendapatkan predikat cewek aneh yang sudah patah hati. Aku akan ikut grup pemulih trauma dan berkata di setiap pertemuan pemulihannya, ‘Saya pernah ada di posisi anda dan saya sudah melewatinya. Berterimakasihlah pada Hakim Bao yang menemani setiap kesendirian saya dengan adegan hukuman pukul bokongnya. Mari kita dukung supaya serial Hakim Bao selalu ada.’
Aku melangkah lunglai meninggalkan taman sambil menata perasaanku yang sedih. Wajahku mulai memerah dan bersiap untuk menangis. Ketika tiba-tiba aku merasakan ada sosok yang berdiri di hadapanku. Dengan nafas terengah-engah Hendra berdiri di hadapanku. Peluhnya bercucuran di sekitar keningnya. Bahkan bajunya tampak basah oleh keringat. Wajahnya memerah akibat berlarian. Apa yang dia lakukan? Apa pengakuan seorang gadis aneh yang alergi aroma kopi membuatnya stres? Saking stresnya hingga dia harus berlarian agar otaknya kembali normal.
Tapi yang jauh membingungkan adalah ketika dia memelukku. Aku meronta karena terkejut tapi dia tidak melepaskan pelukannya. Aku bersiap untuk muntah di dadanya sampai kusadari aroma kopi dari tubuhnya tidak muncul. Malah yang muncul adalah aroma pafum yang begitu menyengat. Dari jauh kulihat Mila tampak kesal sambil mebawa botol parfum miliknya yang hampir kosong.
“Aku juga menyukaimu selalu Sisi! Maafkan aku yang terlambat mengatakannya padamu,” ujar Hendra. Aku melihat wajahnya yang kali ini memerah karena malu. Senyumku merekah sempurna dan lenganku membalas pelukannya. Kurasa kali ini aku akan mulai menyukai aroma kopi.
“Tunggu dulu, apa maksudmu sudah memberi pelajaran pada Tita? Apa kau yang selalu disebutnya setan pemukul bokong?” tanya Hendra.
Aku terperajat. Setan pemukul bokong? Sebutan yang sangat jelek. Ingatanku melayang ketika aku memberikan pelajaran pada Tita dengan memukul bokongnya dengan menggunakan penggaris kayu sambil berteriak, “RASAKAN HUKUMAN HAKIM BAO!!!”