Minggu, 27 Januari 2013

4. Biji Kopi 4 : Pria Termos Kopi



Setelah sekian lama gak apdet karena bayak banget halangan. Mulai dari lebaran, anak sakit, sampe acara kencan sama suami yang mirip shi won (hahaiiii!!!) yang bikin perhatian teralihkan.  Dan akhirnya muncullah cerita kopi ke 4 yang di dalem draftnya sebetulnya ini cerita ke enam. 2 cerita lain kayak gak layak masuk kesini karena idenya yang masih acakadut en mirip lagu armada "mau di bawa kemanaaaa.....?". Semoga semua reader berkenan memaafkan dan membaca kembali. Dan sukur-sukur mau kasih komen. Mampir juga buat baca Bartian. mampir ya...mampir yaaa... (maksa!)


Rumah itu masih tetap terlihat sama olehku. Besar, megah dan menakjubkan. Pemiliknyapun bagiku terlihat masih tetap sama seperti saat ku pertama melihatnya. Tetap terlihat tampan, mempesona dan meluluhkan hati tiap wanita.
Kulihat mobil sedan berwarna biru tua itu terparkir rapi di garasi, menandakan pria itu ada di rumah ini. Termos berisi kopi dan juga beberapa ceminan membuat tanganku sedikit kesusahan untuk memencet bel rumah ini. Tak lama, sosok pria mempesona itu muncul.
Masih cukup muda dan tampan. Senyumnya ketika melihatkupun begitu mempesona. Rambutnya yang terjuntai ke wajahnya membuatnya terlihat lebih tampan diusianya yang sebenarnya menginjak kepala 3.
“Sudah datang? Seharusnya aku menjemputmu di sekolah tadi.” Ujarnya mempersilahkanku masuk sembari memeluk dan mencium keningku.
“Itu tak mungkin kan? Bagaimana kalau wartawan tahu! Lagipula aku tak butuh jemputan.” Jawabku. Dia memberikan senyumnya yang selalu membuat hati tiap wanita luluh kembali.
Termos kopi dan ceminan yang kubawa kuletakkan di meja makan, sementara tas sekolahku telah berpindah ke tangannya. Pandanganku menjelajah ke rumah ini dan menemukan banyak barang yang begitu berserakan. Tanpa pikir panjang tubuhku mulai bergerak merapikannya.
“Tidak perlu, nanti Emin yang akan membereskannya,” ujarnya tiba-tiba sambil menahan tanganku. Emin, manajernya yang selalu menyiapkan setiap peralatannya. Kutepiskan lengannya dan melanjutkan kegiatanku lagi.
“Emin-pun pasti lelah setelah perjalanan tour beberapa kota. Aku tak suka melihat ruangan yang berserakan seperti ini.”
Dia tersenyum melihatku dan membiarkanku melakukan semua keinginanku. Matanya menatap setiap langkahku sambil tangannya mulai menuangkan kopi yang kubawa ke dalam gelas miliknya.
“Aida-pun suka seperti itu.”
Aku tersentak mendengar nama itu keluar dari mulutnya. Nama wanita yang pernah mengisi hatinya. Nama mantan istrinya yang sama sekali tak diketahui oleh khalayak ramai. Nama wanita yang sekarang sudah terkubur di tanah.
“Membersihkan rumah, melawan setiap ucapanku, dan membuat kopi seperti ini.” Lanjutnya sambil terus menatapku yang masih sibuk.
“Jadi, kami wanita yang mirip?”
Dia tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Kemudian mengalihkan pandangannya menatap kosong ke sudut lain. Membuatku mengerti bahwa saat ini dia sedang memikirkan wanita yang bernama Aida itu.
“Sampai kapan?”
“Apanya?”
“Sampai kapan hubungan ini akan terus menerus seperti ini?” tanyanya sambil menatap kosong ke arah lain.
“Apa kau sudah siap menerima konsekuensinya? Menerima kenyataan bahwa karirmu akan berakhir apabila orang lain tahu hubungan kita?”
“Isa! Aku tak peduli!”
“Tapi aku peduli!” bentakku. Dia menatapku kembali. “Aku peduli dan aku sudah siap. Dari awal kita bertemu semua orang sudah mengajariku bagaimana harus bersikap kepadamu!”
“Isa, aku ingin kau tidak bersikap seperti orang asing kepadaku!”
“Dan membuat semua orang tahu apa yang terjadi?”
“Ini di rumahku, Isa! Tidak ada orang lain!”
Aku terdiam menatapnya. Wajahnya yang tampan terlihat memerah menahan emosinya.
“Rumahmu, selalu dipenuhi orang lain. Tapi bukan aku! Aku tak bisa bertindak sembarangan di sini.”
“Kau yang tidak bersedia tinggal bersamaku. Menjalani kehidupan kita berdua!” bentaknya marah. Kopi ditangannya terciprat keluar dari gelas karena sentakannya.
“Kau tahu alasannya.” Jawabku sembari meraih tas sekolahku dan pergi berlari meninggalkannya. Tidak menghiraukan teriakannya memanggil namaku.
****
  “Ganteng kan?” ujar Olin sambil menunjukkan foto di Smartphone-nya. Aku hanya tersenyum melihatnya. Suasana kelas begitu riuh ketika guru pengajar tidak berada di tempat.
“Eklusip neee… kemaren dapet pas dia konser. Aku masuk ke backstage Cuma buat dapetin foto ini. Thanks to Bebi!” lanjut Olin sambil tersenyum puas menyebut nama kakaknya, Bobi, yang menjadi kru konser.
“Siapa tuh?” Tanya Indra tiba-tiba di belakang kami.
“Katrok! Ne arteesss…arrrteeeeeiiiisss…! Si Ben, penyanyi itu lhoo…! Ganteng kan?” jawab Olin sambil menggoda Indra yang akhirnya membuat cowok itu jadi salah tingkah. Membuatku tersenyum menyaksikan tingkah mereka berdua.
“Artis gitu diidolain! Palingan juga penuh sensasi cowok kayak gitu!”
“Enak aja! Iri ya Lu! Si Ben ne biar dah 30an, teteup ganteng en yang paling penting, bebas skandaaaallll! Artis cewek aja yang pada keganjenan pengin digosipin sama dia!” balas Olin. Sementara  Indra sepertinya tidak terlalu tertarik akan penjelasan Olin.
“Jadi Sa, nanti pulang sekolah kamu kosong? Kita jalan-jalan yuk!”ajak Indra tiba-tiba.
“Masi aja usaha!” tukas Olin yang membuat Indra sedikit sebal. Aku tersenyum dan menggeleng.
“Kerjaan mengantar kopi lagi?” Tanya Indra. Membuatku kejadian kemarin. Membuatku teringat akan termos kopi yang tertinggal disana.
“Hah, masih jadi kurir kopi? Bukannya warung kopi nenekmu dah tutup ya?” Tanya Olin.
“Siapa sih yang masih minta diantar kopi itu? Apa dia gak bisa beli kopi di warung sendiri?”tukas Indra juga.
Aku tersenyum menjawab semua petanyaan itu. Menatap Indra lembut dan mengucapkan maaf tanpa suara. Membuat dia terdiam mematung beberapa saat akan penolakanku atas ajakannya yang sudah kesekian kali. Dan suara bel pulang sekolah menyadarkan kebisuan kami
Saat pulang ini membuatku menjadi sangat kebingungan. Satu-satunya alat untuk alasanku bertemu dengan pria itu tertinggal di rumahnya. Rumah yang dia inginkan untukku menempati bersamanya. Yang sebenarnya hati kecilku berteriak-teriak menyetujuinya, tapi egoku memaksa untuk menolak. Bersikeras menjadi wanita yang tegar untuknya.
“Isa! Isa! Tunggu!” dan suara Indra menghancurkan lamunanku. Memaksaku untuk menatap ke arahnya. Melihat seorang pria manis yang masih memakai seragam sekolah. Seorang pria dengan penampilan yang jauh berbeda dengan pria yang baru kupikirkan. Pria yang begitu diidolakan Olin.
“Ya? Ada apa?”
“Mau kemana? Gimana kalo kamu aku anter buat kerjaanmu itu? Lumayan irit ongkos kan” ajak Indra manis. Ajakan yang sangat rasional dari semua ke-irasional-anku saat ini. Tapi itu semua tidak mungkin. Aku menggeleng pelan. Indra tiba-tiba menarik lenganku, membuatku tersentak terkejut.
“Kamu pasti capek kan? Dari tadi pagi wajahmu terlihat suntuk. Apa ada yang membebanimu saat ini? Aku tahu mungkin aku gak pantes buat ikut campur masalahmu. Tapi paling enggak, aku pengin bisa bantu kamu Sa!”
“Makasih Ndra, tapi aku masih belum bisa nerima bantuan kamu sekarang. Tolong lepasin aku!”
“Gak mau Sa! Kamu tau gimana perasaan aku sama kamu! Aku gak tau alesan kamu nolak aku Sa! Tapi biar begitu, paling enggak jangan tolak perhatian aku Sa!”
“Haruskah kamu tau semua alasan dulu?! Lepasin aku Ndra!” aku mulai emosi dan berusaha melepaskan genggaman Indra.
“YA! Aku mau tahu alasanmu!” bentak Indra kesal. Wajah manisnya berubah merah karena kesalnya. Aku terdiam sesaat menatapnya. “Apa ada pria lain?”
Aku masih terdiam sampai ketika sedan biru tua itu berhenti tepat disebelah kami. Seorang pria dengan jaket kulit dan kacamata hitam menarik paksa tanganku. Tak hanya Indra, akupun begitu terkejut. Sampai akhirnya aku mengenali sosok di balik kacamata hitam itu.
“Lepaskan dia!” ujar pria berkacamata hitam itu dingin kepada Indra. Suaranya seolah menghipnotis Indra dan merenggangkan genggamannya. Setelah itu Pria itu menarikku masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Indra yang masih termenung menatap kami pergi.
Ini beberapa kalinya aku berada di dalam mobil ini. Kami hampir tak pernah bersama dalam satu mobil karena ketakutanku akan wartawan. Dan kali ini, ketakutanku bertambah besar lagi.
“Siapa cowok itu?!” Tanya pria itu. Si Ganteng, seperti Olis menyebutnya.
“Bukan urusanmu!” jawabku ketus masih berusaha mengatasi ketakutanku akan orang lain yang melihat kejadian tadi.
“Isa, jelas ini urusanku! Aku tak bisa membiarkanmu didekati pria…”
“AKU BILANG INI BUKAN URUSANMU!” teriakku menatapnya. Sesaat kemudian mobil sedan ini sudah berhenti dipinggir jalan. Matanya menatap tajam ke arahku. Membuatku bingung harus berekspresi seperti apa.
“Kau… kau sama sekali tak boleh berhubungan dengan anak ingusan tadi itu! Kau juga tak boleh berhubungan dengan anak ingusan manapun! Aku berhak atas semua larangan itu Isa.” Ujarnya bergetar seperti menahan amarah. Ekspresiku berubah menjadi sangat heran. Sangat heran yang begitu kesal.
“Sama sekali tidak berhak! Setelah semua yang terjadi, semua penyangkalan pada seluruh orang atas diriku, semua ketertutupan atas statusku…tak ada lagi hak itu!” jawabku kesal. Aku memaksa membuka kunci pintu mobil sedan ini dan membuka pintunya. Turun dari mobil ini dan berlari menjauh.
Aku yakin dia tidak akan mengejarku. Terlalu berbahaya untuknya untuk menampakkan wajahnya ditengah keramaian jalan saat ini. Ketika banyak orang berlalu lalang dan mereka yang meminiki TV pasti mengetahui wajahnya. Dan air matakupun menetes ketika kebenaran atas pikiranku terwujud. Membuatku merasa kehadiranku kembali disangkal olehnya.
****
“Baru pulang?” Tanya nenek ketika aku selesai mengucapkan salam. Aku tersenyum sebagai jawabannya. Pengganti dari kalimat, ‘aku tak mau membicarakan alasannya nek’.
Perutku yang lapar memaksaku berjalan menuju meja makan. Berharap nenek membuatkan makan siang seperti biasa. Hal yang seharusnya ibuku lakukan tapi tidak bisa dia lakukan. Semenjak ibu meninggal, hanya nenek yang merawatku. Tudung saji yang menutup menu makan siangku kubuka. Beberapa lauk, nasi dan Ya Tuhan! Termos kopi itu!
“Nek, siapa yang mengantarkan termos ini?”
Nenek yang mendengar suaraku muncul dari balik dapur. Mengernyit perlahan melihat wajahku yang kebingungan.
“Seorang pria gendut dengan rambut pirang mengantarkannya tadi. Dia juga bilang kalau sore ini masih mau diantarkan kopi lagi. Siapa dia Sa? Kau kenal?”
“Itu Emin..”
“Emin? Emin siapa? Jangan bilang salah satu pegawai orang itu! Isa, kau tak berhubungan dengan dia lagi kan?”
“Nek..”
“Isa! Apa belum cukup sakit hatimu selama ini?”
“Dia tak bermaksud Nek. Hanya saja, dia masih bingung mengambil sikap.”
“Sampai berapa lama?! Isa, aku tak mau kau sakit hati lagi nantinya. Tinggalkan dia nak.”
Aku mulai menangis. Mengambil termos kopi dari meja makan. “Aku tak bisa nek…” jawabku sambil berlalu meninggalkan nenek.
****
 “Hai Isa! Gimana kabarmu?” suara Emin menyambutku ketika aku berada di depan pintu rumah ini. Sengaja datang sepagi ini hanya untuk mengantarkan kopi untuknya. Termos kopi yang kubawa segera disambut olehnya.
“Aku hanya mengantarkan ini.”
“Ah, jangan kaku begitu. Masuklah! Ben juga sudah menunggumu dari tadi. Sebagai catatan, dia sangat gelisah! Terutama karena kau kemarin sore tidak datang.”
Sebelum sempat Emin bicara lagi, sosok pria itu sudah muncul dengan rokok di mulutnya.
“Isa, kau sudah datang! Aku sudah menunggumu.” Ujarnya sambil memeluk dan mencium keningku. Aku hanya bisa terdiam.
“Aku harus segera berangkat. Nanti bisa terlambat ke sekolah” pamitku dengan berusaha tidak menatap matanya.
“Aku antar!”
“Tidak perlu. Aku bisa berangkat sendiri.”
“Isa, aku akan antarkan. Aku tak akan muncul di depan teman-temanmu.”
“Tak perlu. Itu akan lebih mencurigakan. Lebih baik aku berangkat sendiri.”
“Oh sudahlah, kalian menyebalkan. Berdebat gak penting..gak penting!” ujar Emin melerai kami. “Isa, kamu ikut ajah. Kita pake mobilku. Kebetulan hari ini Ben sama aku mau ke studio rekaman. Ntar aku aja yang turun nemenin kamu. OK!”
Aku menatap Emin lesu dan Emin menampakkan senyum kemenangan. Lenganku di rengkuh pelan oleh Emin dan kami berjalan ke mobilnya. Sementara pria itu mengikuti dari belakang dan memasang kacamata hitamnya.
Mobil Emin cukup besar, jauh lebih besar dari sedan biru milik pria itu. Aku terpaksa duduk di belakang bersama pria itu karena bangku di sebelah Emin terisi dengan tas miliknya dan beberapa barang. Sementara termos kopi milikku masih berada di genggaman pria itu. Dia mendengus pelan.
“Tak kusangkan kau lebih mendengarkan Emin daripada aku.” Ujarnya tiba-tiba. Aku hanya terdiam berpura-pura tak mendengar.
“Nanti sore, aku akan datang mengambil termos kopinya.”
“Tak perlu, biar Emin yang mengantar. Besokpun biar Emin yang mengambil ditempatmu.” Ujarnya ketus. Tapi hatiku seperti tersayat mendengarnya. Dia lebih meminih Emin untuk mengambil kopi miliknya daripada aku mengantarkannya. Dia lebih memilih untuk tidak melihatku. Hal itu membuat hatiku sangat sakit. Mataku terasa panas menahan air mata yang akan jatuh.
*****
“Kamu nangis Sa?” tiba-tiba lenganku disambut oleh Indra ketika aku baru keluar dari kamar mandi. Sial, apa begitu terlihat di wajahku sisa-sisa tangisanku tadi.
“Aku baru kelilipan.”jawabku singkat sambil tersenyum.
“Sa, soal kemarin…aku minta maaf…” ujar Indra pelan. Sebelum aku sempat menjawab, bel masuk sekolah sudah berbunyi. Tanpa sadar kami segera masuk ke dalam kelas.
“Hai!” sapaku pada Olin ketika menemuinya di bangku kami. Tapi kali ini wajahnya sedikit aneh menatapku. Ketika dia akan mengutarakan maksudnya, Bu Ain, guru Kimia kami sudah memasuki kelas.
Sedikit aneh melihat Olin yang beberapa kali melirik ke arahku kebingungan. Saat Bu Ain pergi keluar kelas sebentar, menjadi saat yang tepat bagiku menanyakannya. Olin terdiam, tetapi dia menyodorkan smartphone-nya. Dan, astaga, di lembar halaman berita di internet, aku melihat fotoku bersama pria itu kemarin. Saat dia melepaskan genggaman Indra siang itu.
Yang paling mengejutkan, judul berita itu. TAK PERNAH TERLIHAT DENGAN WANITA, MENGGANDENG ANAK SMA. Oh Tuhan, apa yang terjadi. Olin menatapkan kebingungan, dan dia sedikit khawatir dengan wajahku yang pucat.
“Apa kau, dengan Ben…kalian…” Olin terbata-bata, tapi aku tahu apa yang ingin dia tanyakan.
“Tidak… tidak seperti yang kau pikirkan..tidak…” Aku begitu kebingungan. Beberapa anak melihatku yang begitu kebingungan. Sementara Olin berusaha menenangkanku. Tiba-tiba dari luar terdengar suara Bu Ain yang khawatir. Sayup-sayup kudengar wartawan sudah berdatangan untuk mencari aku.
Aku berlari keluar dari sekolah. Di depan gerbang tampak banyak wartawan yang menghadangku. Mereka membuatku takut dengan kilatan blits dan juga cercaan pertanyaan yang terdengar seperti dengungan di telingaku. Aku ketakutan dan hampir menangis. Aku hanya ingin pulang dan meringkuk dalam tangisku di kamar. Ketika kusadari tangan seseorang menarikku kembali ke dalam sekolah. Indra.
“Ayo kuantar kau pulang!” ujar Indra sambil mengambil helm cadangan di motornya. Kali ini air mataku tak terbendung. Aku menangis di depan Indra. Dia memasangkan helm di kepalaku dan menarikku menaikki motornya.
Sepanjang perjalanan aku terisak. Indra seakan mengerti dan dia tak bertanya apapun padaku. Membiarkanku menangis di punggungnya. Betapa aku merasa Indra selalu ada untukku, dan pria itu. Bahkan dia lebih meminih Emin untuk mengambil kopi miliknya. Dan sekarang para wartawan telah memegoki kami bersama. Betapa aku merasa semua pengorbananku selama ini terasa sia-sia.
Nenek terkejut melihat motor Indra yang tiba-tiba memasuki halamannya. Lebih terkejut lagi melihatku yang sudah pulang dengan wajah sembab. Aku berlari menghambur dalam pelukan nenek dan nenek hanya mengusap pelan punggungku. Indra berdiri mengangguk pelan memberi hormat pada nenek dan nenek hanya membalas senyum.
“Tas dan bukumu, biar nanti aku dan Olin yang mengantar ke sini. Semoga para wartawan itu belum tahu alamat ini.”
“Kau juga sudah tau berita itu?”
Indra menghela napas pelan. “Olin tadi pagi menelponku, menanyakan kebenaran foto itu. Maaf, sepertinya itu gara-gara aku kemarin.”
Aku menggeleng pelan. Sudah cukup, ini bukan kesalahan Indra yang sudah begitu baik padaku, juga bukan kesalahanku. Ini semua kesalahan pria itu. Ben, penyanyi itu. Yang tak bisa memberikanku ketenangan ketika aku harus berada di dalam kehidupannya. Indra pun berpamitan kembali ke sekolah. Sementara aku masuk dan mulai meringkuk dalam kamarku.
****
Sudah 2 hari ini aku tak masuk sekolah. Karena wartawan yang menunggu di rumah, akhirnya aku mengungsi ke umah Olin. Hanya nenek Olin dan kakak Olin yang tahu akan keberadaanku di sini. Sementara orang tua Olin masih belum pulang dari wisata bisnis mereka. Hari-hariku hanya dipenuhi dengan berada di kamar Olin. Membayangkan apa yang dilakukan teman-teman sekolahku, apa yang mereka pikirkan akan diriku, nenek yang cemas di rumah, dan pria itu. Apa Emin sudah mengambil termos kopinya? Apa dia sudah tahu yang terjadi? Tapi kuputuskan untuk memutuskan khayalan tentang dia.
Kuputuskan untuk tidak berharap bantuan apapun darinya. Mungkin dia marah padaku karena fotoku dengannya bisa menjadi skandal terbesarnya. Mungkin dia akan berusaha menyangkal adanya diriku, mengatakan pada wartawan bahwa aku hanya anak SMA yang tergila-gila dengannya. Hanya salah satu dari fans beratnya. Pintu kamar terbuka dan Olin tampak sudah pulang. Dia tersenyum dan mendekatiku. Sambil menghela nafas dia duduk di sebelahku.
“Aku tadi sempat mampir ke rumahmu, dan wartawan masih ada di sana.”
“Lalu nenek? Bagaimana nenek?”
“Dia baik-baik saja. Aku tadi sempat ngobrol bentar. Indra juga sempat beberapa kali nemeni nenek.”
Indra, cowok manis itu begitu baik dan perhatian. Aku benar-benar merasa bersalah akan semua perlakuanku padanya.
 “Sudah mau cerita?” Tanya Olin sambil menggenggam tanganku
“Cerita tentang apa? Kalau tentang foto itu, aku hanya bisa bilang bahwa benar itu aku. Tapi kalau kau tanya tentang hal yang lain, maaf aku tak bisa jawab.”
“Kamu selalu seperti itu. Seakan-akan dunia ini hanya kamu yang membawa bebannya. Sa, kamu gak percaya sama aku?”
“Bukan gitu Lin, cuma aku merasa bukan aku yang berhak menjelaskan semuanya.”
“Sa, kamu itu korban! Kenapa kamu ngerasa gak bisa membela diri?” bentak Olin kesal dengan semua penolakanku. Aku mulai menangis. Bukan karena bentakan Olin, tapi karena jauh di lubuk hatiku aku membenarkan semua perkataan Olin, tapi otakku tetap menyangkalku untuk membagi kenyataannya bahkan pada Olin.
Olin mendesah pelan. Merasa sia-sia menanyakan lebih jauh akan kebenarannya padaku. Diambilnya remote TV miliknya di meja dan menyalakannya. Pria itu, tiba-tiba sosoknya terlihat di televisi.
“Sa, itu Ben!” teriak Olin yang akupun sebenarnya juga sudah melihatnya. Dia terlihat tampan dengan setelan kemeja hitam miliknya. Di sampingnya tampak Emin dengan wajah yang pucat. Apa, apa yang akan dia katakan? Dan semuanya, semua perkataannya yang hanya beberapa menit itu telah membuatku mengerti akan hadirku pada dirinya.
****
Beberapa wartawan masih tampak terlihat di sekitar sekolah, tapi kali ini aku sudah tak peduli. Mereka tak bisa menyentuhku atau menanyakan apapun padaku. Karena semua jawaban sudah diberikan oleh pria termos kopiku itu. Olin tersenyum menggodaku.
“Jadi, hari ini kamu dijemput? Boleh nebeng gak? Aku kan pengen liat Ben dari deket Sa..” pintanya. Aku tersenyum sambil mengangguk pelan. Jauh di depan kelas kulihat Indra menatap sayu padaku. Kemudian dengan langkah gontai meninggalkan kelas.
“Tunggu ya Lin. Aku mau ke Indra dulu!” ujarku ke Olin yang masih berbunga-bunga. Tanpa menunggu jawaban Olin aku berlari mengejar Indra yang berjalan menuju motornya di parkiran.
“Indra!” teriakku memanggil namanya. Indra menoleh pelan padaku dan terdiam di tempatnya.
“Aku…aku mau bilang makasih buat semua bantuanmu.”
“Ya sama-sama.” Ujarnya lesu
“Kamu marah?” tanyaku. Dia mengernyitkan alisnya. Tampak berpikir sebentar.
“Tidak…mungkin iya…sedikit…” ujarnya
“Maaf.”
“Aku bosan dengar kata maafmu.” Jawabnya sambil tersenyum. “Aku berharap bisa menjadi orang yang kamu andalkan. Tapi masalah sebesar kemarin saja kamu bahkan menyembunyikannya dariku.”
“Olin juga tidak tahu!” tukasku cepat.
“Itu membuatku sedikit merasa baikan. Tapi itu semua sebetulnya terserah kamu. Hanya saja aku sedikit kecewa.” Ujarnya sambil tersenyum. Membuat wajah manisnya semakin mempesona.
“Indra, makasih” aku memberinya pelukan sesaat yang membuat semu merah hadir di wajahnya. Yang membuat jantungnya terdengar berdebar di telingaku ketika menyentuh dadanya. Kemudian segera berlari meninggalkannya sebelum dia melihat wajahku yang memerah juga. Ku dengar dia berteriak tapi aku tak mengindahkannya.
“Isa! Kuanggap itu kamu ngasih aku harapan!” teriak Indra yang membuatku tersenyum malu sambil berlari meninggalkannya.
Di depan kelas Olin sudah menunggu dengan senyum terkembang di wajahnya. Senyum tak sabar ingin segera bertemu idolanya. Di lengan kanannya tampak tas sekolahku yang sudah tertutup rapi. Sepertinya dia juga membereskan barang-barangku.
“Lama! Ayo cepetan!” ujarnya sambil menyerahkan tasku.
“Iya! Sabar!”jawabku sambil menggandengnya keluar dari sekolah.
Dan disanalah telihat pria itu berdiri di depan mobil sedan birunya sambil membawa termos kopiku. Olin berjingkat kegirangan melihatnya. Sementara beberapa siswa lain sibuk menebak-nebak sosok dibalik kacamata hitam itu. Kacamata hitam yang terpasang di wajahnya bahkan tak mampu menutup rona bahagianya. Dibentangkannya kedua tangannya untuk memelukku kemudian dan memberikan ciuman di keningku.
“Ayo pulang! Ke rumahku. Ke rumah kita!” ujarnya. Aku tersenyum sambil menggandeng Olin masuk ke mobil. Memberikan jawaban dengan panggilan yang amat dia rindukan.
“Ya Ayah!”