Jumat, 19 April 2013

Kawin Kontrak - Bab 4


 Beberapa waktu yang lalu eke ngobrolin soal film sama temen-temen eke di wassap. Akhirnya pembicaraan ngebahas soal film drama haru biru yang pernah eke tonton. Ini genre yang paling jarang eke tonton selama ini karena :1) eke paling benci pilem yang bisa bikin mewek karena itu bisa ngerusak mood eke seharian dan bikin rasa 'kebelet' itu dateng lagi ; 2) eke lebih suka film eksyen yang tembak langsung mati,atau hajar langsung tumbang, sama film komedi (kartun masuk di dalem sini). Balik lagi sama film drama haru biru yang eke tonton, filmnya itu judunya Moment to Remember, film Korea yng terkenal bikin cowok aja bisa nangis (tapi suami eke selamet dari kutukan itu). Resensi filmnya bisa dicari di mbah gugel yaw..Eke sendiri, setelah 3 kali nonton, masih aja mewek bombay habis nonton pilem ini. Bener-bener pilem bagus yang so kampret!
Tapi semalem eke nonton film bagus yang judulnya The Guardian.  
om kepin masih ganteng aje dari maen pilem the bodyguard. duh mana dagu si ashton kayak di belah kampak gitu! mantaaaappp...
Kalau aja jari kaki eke bisa nekuk sambil nyisain jempolnya aja, eke bakal kasih tuh pilem, ancungan jempol tangan dan kaki buat filem ini. satu hal yang bisa eke ambil dari film ini itu jangan pernah nyerah dan total dalam passion-mu. itu bikin eke mikir lagi kalo selama ini eke masih setengah-setengah dalam ngelakuin segala hal. sementara di film itu, tokoh utamanya total dalam pekerjaan yang dia sukai dan rela mengorbankan jiwa raganya di sana.
karena itu eke aplot bab 4, soalnya habis nonton tuh pilem, semangat nulis eke langsung meluap-luap. berterimakasihlah sama om Kevin Costner yang sudah nemenin dini hari eke (juga si ganteng Ashton Kutcher se...wekekekekeekekekekekeek). sayang merek gak punya G+. kalo punya, dah eke colek di blog ek... wakakakakakakakakakakakk ...
NGIMPI!!!! 


BAB 4
RIMA

Mataku bengkak, sangat bengkak hingga sedikit sulit membuatnya terbuka. Semenjak aku menemukan Tio berselingkuh dengan sahabatku sendiri (mantan…mantan sahabat), Lea,  aku selalu menangis dan terus menangis selama dua hari ini. Ayah mengamuk dan berjanji akan membunuh Tio kalau dia berani muncul di hadapanku lagi (aku menangis lebih kencang membayangkan hal itu. Bisakah Ayah menghiburku dengan cara selain itu?).
Aku turun dari atas ranjangku dan menggapai tasku di atas meja. Mengeluarkan ponsel yang kumatikan semenjak 2 hari yang lalu setelah aku pulang dari apartemen Lea. Tombol power ponselku menyala ketika aku menekannya, tak lama ponselku berkedip kemudian mulai hidup dan menerima beberapa pesan.
Aku melihat pesan-pesan yang menunjukkan panggilan masuk saat ponselku mati. Beberapa panggilan dari Diva membuatku bergidik ngeri. Sepertinya dia sudah tahu akan keadaanku. Aku bisa membayangkan kemarahan di wajah cantiknya yang judes. Kemudian membayangkan dia menyumpahi Tio dan Lea (untuk hal ini, Diva adalah juaranya). Kemudian beberapa panggilan dari Tio dan juga Lea membuatku mendengus keras. Mau apa lagi dua pengkhianat ini? Aku berusaha menguasai diriku agar tak menangis kembali. Hingga kulihat satu panggilan dari nomer yang tak kukenal sama sekali. Sebuah nomer yang tak tercatat di phonebook ponselku. Membuatku teringat sesuatu dan segera membongkar tasku kembali.
Ketemu!
Kartu nama milik Endo hampir kulupakan semenjak aku menerimanya. Kartu nama itu terlihat sederhana dengan warna biru dan merah yang saling mendominasi satu sama lain. Nama Endo tercetak jelas di tengah kartu nama itu lengkap dengan jabatannya.

Endo Akbar Widjaya
Komisaris Utama/Chairman Widjaya Group

Astaga!
Aku mencoba menghitung usia Endo, seharusnya dia hanya lebih tua 2 atau 3 tahun di atasku. Kalau usiaku saat ini 25 tahun, seharusnya Endo baru berusia 27 atau 28 tahun. Astaga! Astaga...astaga…astaga! Dia menjadi komisaris utama di usia yang masih sangat muda! Aku melihat kembali jejeran nomer yang tertera di kartu namanya dan mencocokkan nomer itu dengan yang tertera di ponselku.
Nomer yang berbeda!
Sedikit kecewa aku menghela nafas. Kulihat jas Endo yang tersampir di kursi kamarku. Jas itu tanpa sadar terbawa olehku ketika aku turun dari mobil Endo. Kuambil jas itu dan merengkuhnya dalam pelukanku. Bau rokok tercium samar-samar bersama bau parfum dari jas itu. Apa sekarang Endo merokok? Aku kembali teringat masa SMA-ku. Awal aku bertemu dengan Endo membuat jantungku berdebar keras. Apalagi ketika dia duduk satu bangku bersamaku dan Diva ketika rapat acara sekolah. Itu kali pertama aku melihatnya dalam jarak begitu dekat. Wajahnya jauh terlihat tampan di jarak sedekat itu. hidungnya yang mancung, matanya yang kelabu dan juga bibirnya yang seksi (jangan memperolokku! Setiap wanita normal pasti mengharapkan bibir se-seksi itu untuk mencium mereka! Itu reaksi normal, sangat normal!) Sayang, sifat pemaluku terlalu mendominasi dan itu membuatku memilih untuk pergi dan duduk menjauh darinya.
Aku tersenyum mengingat itu dan merasakan debaran kala SMA kembali muncul di dadaku. Debaran itu jauh lebih keras saat Endo menyapaku untuk pertama kalinya. Sapaan yang membuatku seakan melayang (semua cewek, kecuali Diva, akan melayang kalau seseorang setampan Endo menyapanya ketika SMA). Kemudian debaran itu bertahan ketika Endo mengajakku mengobrol dan mulai menghilang ketika penggemar Endo datang melabrakku (aku baru tahu betapa ganasnya rasa suka penggemar pada idolanya saat itu). Debaran itu benar-benar menghilang ketika Endo pergi dan tak pernah menghubungiku sama sekali dan kembali muncul dua hari yang lalu saat aku melihat Endo kembali.
Otakku berusaha membandingkan sosok SMA Endo dengan sosoknya saat dua hari yang lalu. Dia tak banyak berubah. Masih tetap tampan, lebih tegap dan mungkin lebih seksi. Aku menelan ludah ketika memikirkan hal yang satu itu. Kugeletakkan jas milik Endo di ranjang dan kusambar handukku di gantungan. Berharap setelah mandi aku bisa menjernihkan pikiranku dari semua pikiranku yang aneh.
****
  
“Kenapa?”
Eni tampak resah menungguku keluar dari kamar mandi. Dia terlihat kebingungan untuk menyampaikan sesuatu.
“Non, cepet keluar deh. Bahaya! Denjeres!” ujarnya panik
“Denjeres apaan?”
“Bahaya, Non…Bahaya! Duuuhhh… Si Bapak didatengin tukang tagih utang!”
“Hah!” teriakku keras.
Aku terperanjat dan segera berlari menemui Ayah. Setelah berlari mengelilingi rumah kemudian aku kembali menemui Eni.
“Ayah dimana, En?”
“Buset dah, kirain muter-muter tadi sudah tau si Bapak dimana!”
“Ya elah, panik, En…panik! Cepetan bilang!”
“Di kantor toko, Non!”
Aku berlari segera ke toko tanpa memperdulikan teriakan Eni. Bagaimana bisa aku lupa akan hari ini? Hari dimana toko kami harus membayar semua hutang pada perusahaan konveksi. Semua masalah seakan datang bertubi-tubi menghampiriku. Mulai dari hutang, juga pengkhianatan dua orang yang dekat denganku. Saat ini aku membayangkan Ayah sedang berhadapan dengan pria tinggi besar bertampang sangar dan membawa surat tagih (kebanyakan debt collector di sinetron yang kutonton di televisi selalu bertampang seperti itu). Aku terus berlari tanpa memperdulikan panggilan semua orang yang bertemu denganku. 
“Jangan sakiti Ayah!” teriakku sambil membuka pintu kantor.
Aku melihat Ayah duduk di kursinya tanpa ada luka sedikitpun dan itu membuatku sedikit lega. Nafasku masih tak beraturan karena efek berlari secepat kilat tadi. Kemudian aku melihat sekeliling untuk mencari debt collector yang datang menagih Ayah. Alih-alih pria besar nan sangar, aku melihat pria-pria berpakaian necis, dan satu dari 3 orang pria itu sepertinya kukenal. Pria itu terkekeh melihatku datang dan aku mulai mengenalinya.
“Endo?” tanyaku heran.
Ayah berdiri menatapku panik kemudian separuh berlari mendekat kearahku. Dia mendorongku keluar dari ruangan.
“Apa yang Ayah lakukan. Aku harus bersama Ayah, karena ini tanggung jawabku juga!” bisikku marah ketika Ayah mendorongku keluar.
“Ayah tahu!” jawab Ayah juga berbisik, ”Tapi ganti dulu pakaianmu dan lepaskan handukmu itu!”
Aku berusaha menangkap perkataan Ayah baik-baik. Ayah melirik ke atas kepalaku dan juga pakaianku. Aku kemudian tersadar apa maksud omongan Ayah barusan. Karena panik, aku lupa masih memakai handuk di kepala dan juga kimono mandiku, kemudian berlari pontang- panting ke sini. Pantas saja Endo bertingkah seperti itu tadi di hadapanku. Tak butuh waktu lama untuk membuat seluruh toko mendenga teriakanku yang berlari dari kantor Ayah menuju kamar, menahan malu yang terlambat datang.
****

Kalau saja ini bukan urusan yang sangat pelik, aku lebih memilih mengurung diriku di kamar dan menghilang dari pandangan semua orang untuk beberapa peradaban (paling tidak sampai sejarah Rima Chandrawati berlari dengan kimono mandi dan handuk yang membungkus kepala menghilang dari cerita tidur anak cucuku). Bisa kurasakan wajahku memerah dan udara di dalam kantor menjadi sangat berat ketika aku masuk. Bukan hanya karena tekanan hutang yang terjadi, tapi juga karena rasa malu yang baru saja kuterima.
Aku duduk di sebelah Ayah kemudian melirik menatap satu persatu wajah-wajah pria di hadapanku, terutama Endo. Dia masih terlihat berusaha menahan tawa setiap kali melihatku (sungguh, itu sangat memalukan. Kalau aku boleh memilih kejadian paling memalukan dalam hidupku, maka ini adalah urutan pertama…err…setelah aku ketahuan menabrak tiang karena menatap Endo ketika masih SMA. Lihat, dia selalu menjadi obyek yang membuatku mempermalukan diriku sendiri!). Aku berusaha tidak mengindahkan raut wajah geli Endo (dan itu sulit, mengingat aku pernah mengidolakannya) dan berusaha fokus dalam pembicaraan ini.
“Pak Bimo, terlepas dari apapun alasan anda, semua surat ini memiliki tanda tangan anda di atasnya, dan itu sah menurut hukum. Anda wajib membayar semua kerugian akibat kontrak yang gagal itu!” ujar salah seorang dari para pria itu. Dia membetulkan kacamatanya yang menempel di hidungnya yang berminyak. Rambutnya hampir botak,entahlah, mungkin karena terlalu banyak memikirkan segala masalah.
“Saya tahu dan saya akan membayarnya. Yang saya minta hanya perpanjangan waktu,” jawab Ayah.
Pria berkacamata itu bergidik ngeri ketika Ayah mengatakan hal itu. Sepertinya dia juga ketakutan menghadapi Ayah yang terlihat jauh lebih sangar kali ini (itu semua karena rasa panik yang membuat kedua alis tebal Ayah bertaut di tengah keningnya). Dia beberapa kali menghapus keringat yang menetes di dahinya. Entah kenapa aku melihat pria ini seakan mendapat tekanan yang berat dari beberapa pihak di ruangan ini. Dan apa yang dilakukan Endo di sini? Aku baru tersadar akan pertanyaan itu. Mau apa dia di sini bersama dengan para pria ini?
“Kemana saja anda selama ini? Kenapa anda bisa begitu cerobohnya melakukan pelanggaran kontrak pada perusahaan kami! Kenapa juga kami harus mau bersusah payah menunggu Anda sementara kami bisa menyita toko bobrok ini?”
BRUAK…
Sebuah pukulan keras dari atas meja menghentikan ocehan kurang ajar si kacamata. Ayah terlihat sangat marah sampai-sampai dia  tak mampu menahan emosinya. Aku sama sekali tak keberatan kalau saja Ayah lepas kendali dan menghajar pria iu (dan aku akan menjadi pemandu sorak yang menyemangati Ayah). Seenaknya saja dia mengatakan bahwa toko kami bobrok. Bahkan aku tidak yakin dia mampu membangun toko seperti ini seperti Ayah dan Bunda dulu. Pria itu kembali mengusap keringat dinginnya yang mengalir. Ketakutan kembali muncul di raut wajahnya.
“Silahkan minum teh-nya!” ujar Ayah geram berusaha mencairkan suasana yang cukup tegang.
Pria berkacamata itu mengangkat cangkir tehnya dengan gemetaran, sementara Endo dan seorang pria yang lainnya tampak tenang meminum teh yang disediakan. Aku baru tersadar, satu-satunya orang yang tidak mendapatkan cangkir teh di ruangan ini hanyalah aku. Ayah sendiri sudah menenggak habis teh yang tersedia untuknya. Tiba-tiba rasa haus muncul di tenggorokanku ketika melihat semua orang minum dari cangkir yang disediakan.
“Ini teh yang sangat enak,” ujar Endo tiba-tiba dan itu membuatku terkejut dia tersenyum sembari meletakkan cangkirnya ke atas meja.
“Terimakasih,” jawab Ayah singkat.
“Kami minta pembayaran itu sekarang!” tiba-tiba si kacamata berteriak seakan semua keberaniannya sudah terkumpul setelah meminum teh miliknya. Membuat kami semua sungguh terkejut.
“Tapi kami tak memiliki uang sebanyak itu sekarang!” jawabku berusaha melawan.
“Kalau begitu, silahkan kalian bersiap kehilangan toko ini! Perusahaan kami akan…”
“Stop!” sebuah teguran singkat membuat si kacamata menghentikan pidatonya yang berapi-api.
Endo tampak menunjukkan raut tidak senang dan itu membuat si kacamata berkeringat semakin banyak. Sekarang aku tahu darimana asal ketakutan si kacamata. Bukan dari Ayah yang terlihat lebih kejam daripada biasanya, (apalagi aku yang baru saja melakukan tindakan yang memalukan) tapi dari Endo.
“Lukas, tolong antar Pak Hendra keluar dan tolng tinggalkan semua berkas-berkas itu. Mulai saat ini, masalah ini langsung kutangani sendiri,” ujar Endo yang membuat pria di sebelahnya segera bergerak mengantarkan si kacamata kelar dari ruangan ini. Tak lama orang yang bernama Lukas itu kembali dan duduk di sebelah Endo.
Endo mengambil semua berkas yang tergeletak di atas meja, kemudian menelitinya satu persatu. Dia tampak membaca semua berkas itu dengan seksama sebelum meletakkannya kembali ke meja. Aku dan Ayah seakan terhipnotis dengan semua tingkahnya dan tak sanggup melepaskan mata kami dari pesona Endo. Endo tersenyum menatapku dan Ayah kemudian menjulurkan tangannya ke arah Ayah. Membuat kami sedikit kebingungan
“Maafkan ketidak sopanan saya, saya Endo Akbar Widjaya, pemilik grup Widjaya yang salah satunya adalah perusahaan konveksi ini.”
APA?
Aku menelan ludah getir, menatap sosok Endo. Sementara Ayah dengan sedikit ragu (juga gugup) menerima jabatan tangan dari Endo. Jadi Endo secara tidak langsung adalah pemilik dari perusahaan koneksi yang menyusahkan ini. Aku menatap Endo seakan tak percaya. Pria yang dulu kukenal ketika masih SMA adalah seorang pengusaha sukses saat ini. Tiba-tiba aku teringat akan perkataan Diva soal seseorang yang akan menolongku menghadapi masalah hutang ini.
“Rima, bagaimana kabarmu?” tanya Endo lagi, membuyarkan semua pikiranku tentang perkataan Diva.
Ayah menoleh heran kepadaku seakan menanyakan bagaimana bisa aku mengenal sosok Endo (baiklaaahhh…, aku tahu kode itu, Ayah!). Aku tersenyum mengangguk menjawab pertanyaan Endo.
“Dia dulu kakak kelasku waktu SMA, Yah. Sepupu Diva,” ujarku mengenalkan Endo. sebuah senyum puas tersungging di wajah tampan Endo.
“Jadi… seperti yang sudah Om Bimo ketahui tentang masalah kontrak ini…” Endo kembali melanjutkan pembicaraan masalah soal kontrak (dan kenapa panggilan Ayah sudah berubah menjadi Om Bimo?), “…ini masalah yang cukup pelik saya rasa.”
“Saya tahu itu, dan saya tidak akan lari dari tanggung jawab. Saya cuma butuh waktu untuk membayar hutang toko ini,” jawab Ayah melunak (sepertinya karena panggilan ‘Om’ tadi).
Endo terlihat berpikir sejenak, kemudian melirik ke arahku. Aku merasakan ada sesuatu dari lirikan yang baru saja dia berikan kepadaku. Itu membuat perasaanku menjadi tidak enak. Sebuah senyuman menawan tiba-tiba muncul di wajahnya dan itu kembali membuatku dan Ayah terpesona.
“Saya bisa membantu dalam hal itu. Bahkan dalam banyak hal, mengingat saya dan Rima punya kedekatan ketika kami masih SMA,” jawab Endo.
“Kedekatan?” Ayah melirik ke arahku kebingungan (ah…, kode itu lagi!)
“Dia sepupu Diva, Yah! Kami sering mengobrol,” jawabku cepat.
“Baiklah, saya sangat berterimakasih untuk bantuan Nak Endo kalau begitu,” jawab Ayah lega.
“Tapi saya juga pengusaha,Om. Sama seperti Om Bimo yang juga pengusaha, kita harus memikirkan semua keuntungan dan kerugian dari setiap tindakan yang berhubungan dengan perusahaan kita,” lanjut Endo lagi.
Ayah tampak berpikir sebentar, kemudian tersenyum seakan mengerti.
“Baik, apa syarat yang Nak Endo berikan untuk ‘bantuan’ itu?” tanya Ayah. Endo terlihat puas mendengar Ayah mengatakan hal itu. Dia menggeser posisi duduknya, membuatnya menjadi lebih nyaman.
“Saya bisa mengundur jangka waktunya, atau bahkan menghilangkan semua hutang ini dengan satu syarat,” ujar Endo. Aku dan Ayah menunggu dengan harap-harap cemas syarat yang akan diucapkan Endo. “Rima menikah dengan saya.”
Akhirnya syarat itu muncul juga.
APA?
“Appuaaaahhh?!” teriakku dan Ayah secara bersamaan. Seakan tak percaya dengan hal yang baru saja kami dengar.
“Saya harap Om Bimo tidak salah paham dengan maksud perkataan saya,” ujar Endo tenang. Sementara Ayah terlihat sudah sangat marah.
“Bagian mana yang bisa membuatku tidak salah paham, hah?! Kau baru saja memintaku untuk menjual anak gadisku!” teriak Ayah begitu marah. Aku berusaha menahan Ayah di sisiku supaya Ayah tidak lepas kendali kemudian menghajar Endo.
“Saya siap menerima hinaan itu. Saat ini, saya tidak bisa menunda untuk memiliki Rima, dan satu-satunya hal yang mampu mempercepat semua proses itu adalah perjanjian ini.” jawab Endo.
“Kau… Dasar pria brengsek! Aku tidak akan menjual anakku untuk kau jadikan pemuas nafsumu!” pekik Ayah.
“Saya meminta Rima untuk menjadi istri saya, menjadi nyonya Endo Akbar Widjaya. Orang yang akan menjadi pendamping saya, dan menjadi ibu dari anak-anak saya. Saya tidak akan meletakkan Rima dengan derajat serendah yang Om Bimo katakan.”
Ayah tercenung mendengar hal itu, seakan tak percaya. Sementara aku, seakan seluruh tubuhku membeku mendengar semua perkataan Endo. Ini pasti mimpi. Sebuah mimpi yang aneh, yang membuatku tak bisa menentukan apakah ini mimpi yang indah atau sebuah mimpi buruk. Suara Ayah memecah kebisuan di antara kami.
“Aku tetap tidak akan membiarkan Rima bersamamu! Pergi kau dari tempatku!” ujar Ayah.
Endo tersenyum kemudian segera beranjak dari kursinya. Pria yang mendampinginya mengambil berkas yang terdapat di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam tas yang dia bawa. Endo menunduk berpamitan dengan Ayah dan melangkah pergi menuju pintu keluar.
“Anda dan Rima punya waktu seminggu sebelum memutuskan hal itu. Saya hanya akan melepaskan Rima kalau kontrak ini sudah bisa dilunasi,” ujar Endo sebelum benar-benar keluar dari kantor ini.
Ayah melotot mendengar ucapan itu. Nafas Ayah tampak memburu seakan tak siap dengan semua perkataan Endo. Aura kemarahan masih muncul dari diri Ayah. Sementara itu, aku masih membeku tak percaya akan apa yang terjadi
****

“Endo bilang apa?”
Diva berteriak seakan tak percaya akan apa yang terjadi padaku dan Ayah tadi siang. Sebetulnya aku berharap dia datang besok atau nanti malam karena aku ingin beristirahat, tapi bukan Diva namanya kalau tidak segera menuntaskan rasa penasarannya. Ayah melirik kesal ke arah Diva, seakan ikut menyalahkan Diva dari semua perbuatan sepupunya, Endo.
“Saya bersih, Om!” protes Diva menghadapi tatapan kesal Ayah. Tak lama Ayah terkekeh seakan menyetujui.
“Jangan tertawa! Gimana cara kita membayar semua itu, Yah?” aku menoleh ke Ayah yang langsung terdiam. “Kamu ada ide, Di?”
Diva tersenyum miris, menunjukkan wajah tak bisa berbuat apapun. Aku merengut sebal, memikirkan apa yang telah terjadi. Masalah dengan Tio saja belum selesai, bagaimana bisa Endo datang membawa masalah baru.
“Tio?” tanya Diva tiba-tiba.
Aku makin merengut, mendengar pertanyaan itu. Sudah kuceritakan semua yang terjadi antara Tio dan Lea pada Diva. Untuk apa dia mengungkit hal itu lagi?
“Sudah ke laut!” jawabku kesal.
“Trus, mau apa dia ke sini?” Diva merengut kesal sambil menunjuk ke arah luar toko.
Aku menoleh dan terkejut menemukan sosok Tio berdiri di depan toko. Wajahnya tampak pucat dan juga cemas menatapku. Seandainya saja kejadian dua hari yang lalu tak pernah ada, saat ini aku akan segera berlari menemuinya dan menanyakan keadaannya. Tapi saat ini semua berbeda.
“Ayah, keparat itu muncul!” teriakku pada Ayah.
Ayah yang sedang sibuk mengurus pembukuan langsung menoleh ke arah Tio. Tak butuh waktu lama untuk mendengar erangan Ayah dan melihatnya berlari ke arah Tio. Beberapa menit kemudian Tio sudah terjengkang di atas tumpukan sampah.
“Jangan pernah temui anakku lagi!” teriak Ayah marah.
“Om, saya mau bicara sebentar dengan Rima!” mohon Tio.
“Ogah! Najis,” teriakku dari dalam toko.
“Terrrbaaiiikkk….”
Kami semua menoleh mencari asal kata yang terakhir. Eni terlihat cengar-cengir melihat kami semua sambil mengacungkan ibu jarinya. Dengan sedikit pelototan dariku dan Diva, pengganggu satu itu segera menyingkir pergi sembari bersungut-sungut.
“Rima, dengerin aku dulu!” pinta Tio lagi.
“Aaahh…, banyak cing cong!” Diva berteriak kemudian melemparkan sepatu hak tingginya dan tepat mengenai hidung Tio. “Rasakan keagungan Christian Loubotin!”
 Sepatu merah menyala dengan sol tebal itu berhasil dengan sukses membuat Tio meringis kesakitan. Sekali lagi hidung mancung Tio merasakan kemarahan wanita. Tapi entah bagaimana bisa dia masih saja tetap bertahan menungguku di depan toko sambil memohon memanggil namaku.
“Aku mohon, Rima. Lea dan aku tak punya hubungan apapun! Itu semua tak sengaja, itu bukan apa-apa. Cuma kamu...”
Sebuah tamparan telak dari Ayah membuat Tio menghentikan semua omongannya.
“Beraninya kau, menganggap kejadian yang membuat anakku menangis ‘bukan apa-apa’!” Ayah menggeram marah. “Kubunuh kau!”
Ayah mengamuk dan hampir saja menghajar Tio yang meringkuk ketakutan kalau saja aku dan Diva tidak segera menahannya. Dengan susah payah kami menyeret Ayah masuk ke dalam toko. Tio hendak maju meringsek ke arahku, tapi tendangan dari Diva membuatnya terjengkal kembali.
“Pergi sekarang, Tio! Atau bahkan aku tak bisa mencegah Ayah juga Diva untuk menghajarmu sampai mati!” ancamku sembari terus menahan lengan Ayah dan menariknya masuk ke dalam toko.
Tio menatap nanar ke arahku, memberikan pandangan memelas yang biasanya selalu bisa membuatku luluh. Aku hampir saja luluh dan berlari memeluknya bahkan memaafkannya, tapi pandangan kejam Diva menusuk ke arah mataku. Membuatku ketakutan dan melupakan keinginanku untuk memeluk Tio. Tak lama Tio berlalu pergi dengan wajah yang begitu sedih dan itu hampir membuatku menangis. Aku melepas lengan Ayah kemudian berlari menuju kamarku sendiri. Bersiap untuk menangis kembali.
Aku meloncat dan berbaring menangis di ranjangku. Kembali teringat akan semua kenangan manis bersama Tio dan juga pengkhianatan yang dia lakukan. Sebuah sentuhan alus di punggungku segera menyadarkanku dari tangis. Diva melihat sedih ke arahku, kemudian memelukku lembut. Aku mengusap air mataku dan duduk di atas ranjangku bersebelahan dengan Diva.
“Bagaimana caranya?” tanyaku sembari terisak, “Bagaimana caranya kamu tahu kalau mereka berdua itu brengsek?”
Diva menghela nafasnya pelan, melihat ke arah kakinya yang kini sudah lengkap dihiasi kedua sepatu berwarna merahnya kembali. Dia sepertinya sedikit kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk menceritakannya kepadaku.
“Aku pernah bertemu Lea jauh sebelum kamu mengenalkan dia padaku,” jawab Diva. aku merengut mendengar itu, “Dia dulu selingkuhan dari Pamanku.”
“Kenapa kamu gak pernah bilang?” tanyaku sebal.
“Aku sudah coba, Rima! Tapi kamu selalu bela dia dan menurutmu kalau aku bilang dia cewek gak bener, apa kamu bakalan percaya sama aku?”
Aku terpekur mendengar semua perkataan Diva. Selama ini aku selalu menganggap semua hinaan Diva hanya karena dia iri dengan orang-orang yang berada di sekitarku.
“Trus Tio?”
“Cowok itu matanya selalu jelalatan! Apa kamu juga gak sadar? Bahkan dia pernah terang-terangan minta aku jadi selingkuhannya!”
“Apa?” teriakku tak percaya.
“Aku hajar dia setelah ngomong gitu. Itu sebabnya dia gak pernah mau ketemuan bareng sama aku lagi!”
“Aku benar-benar bodoh!”
“Baru sadar?” ejek Diva. Aku melotot mendengar ejekannya dan dia terkekeh. “Sudahlah, gak perlu nangisin orang macem mereka! Gak penting!”
“Kalau Endo?”
Diva terdiam menaapku seakan tak percaya.
“Kamu suka dia, Rim?” tanya Diva.
Aku kebingungan (siapapun bakalan kebingungan kalau langsung ditodong seperti itu) menjawab pertanyaan Diva.
“Kamu tahu kalau aku dulu sempat suka dia kan? Jaman SMA!” jawabku.
Diva merebahkan dirinya di ranjang dan menerawang menatap langit-langit kamarku.
“Dia orang yang paling sulit ditebak, Rim!” ujar Diva mulai bercerita. “Apalagi semenjak kematian Ayahnya.”
“Apa? Kapan?” tanyaku terkejut.
“Tepat setelah kelulusannya. Itu membuat dia harus segera siap menjadi ahli waris dan pemimpin dari seluruh perusahaan Papa-nya. Ibunya hanya seorang wanita rumah tangga biasa yang sama sekali tidak mengerti bisnis, sementara dia adalah anak tunggal dari keluarga itu.
Dia harus menerima semua beban itu di usia yang sangat muda. Seluruh masa remaja dan dewasa mudanya dihabiskan untuk mempersiapkan dirinya menjadi seorang pemimpin perusahaan. Aku pernah dengar kalau ada dewan direksi yang membantunya, tapi sepertinya dia tidak pernah bersenang-senang sepeninggal Ayahnya. Aku tak bisa membayangkan kehidupan seperti itu.”
Aku termenung mendengar cerita Diva. Bayangan tentang Endo yang ceria dan ramah ketika SMA mulai kabur tergantikan dengan bayangan Endo yang serius dan begitu tegar. Kemudian ingatan tentang permintaan Endo kepada Ayah membuat wajahku bersemu merah.
“Menurutmu dia serius mengatakan ingin menikahiku, Di?”
Diva melirik tajam padaku, menaikkan kedua bahunya.
“Aku tak tahu,” jawabnya geram. “Yang jelas dia akan segera berurusan denganku setelah ini!”
****
 
Kawin Kontrak Bab 5
Kawin Kontrak Bab 4
Index Kawin Kontrak



     
    


33 komentar:

  1. muach3x bwt endo... Thanx mba ike

    BalasHapus
    Balasan
    1. ma sama tak iya... wekekekekekekekek

      Hapus
  2. Jd kpn mereka nikahnya mba ike?
    Sssss g sabar ngu mlnya *eh
    Kabuuurr
    Eittss thks mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. sssttt.... sabar-sabar..
      eaaaakakakkakakakakakakkakakakak

      Hapus
  3. kya kejutan.
    makash mb ike.
    kecup kecup

    BalasHapus
    Balasan
    1. kecup thok? minta duit... ekeekekekekekeek

      Hapus
  4. endo cucox bok...
    gak banyak cing cong langsung minta nikah...

    next chapter mbak ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wekekekeekekek biar langsung capcus juga.. akakakakkakakaak

      Hapus
  5. mbarike baik sekali ihiyyyy..*cipikacipiki*
    *tarikendobawapulang* haha

    SEMANGAT BAB SELANJUTNYA MBA. ilopyoupull..
    lop Endo juga, sama Elbi juga *eh*

    BalasHapus
    Balasan
    1. gimana ya? emang dari dulu eke baik banget se
      *sombong dengan hidung kembang kempis... ekekekekekekek

      Hapus
  6. lanjuuuuuuuut kak.. kentang goyeng kentang goyeng..
    oia kak,yg pnya blog gadis pengasong fiksi sp ya? aq diundang dunk kak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. lho biasanya ke sini orangnya... waaa... minta di bom ne kok hari gini belum dateng. mana ne maria chrisna a.k.a author di blog gadis pengasong fiksi. bisa di cari juga di wattpad pake user name Mariachrisna,

      Hapus
  7. Endoooooooooo,,nglamarny yg benerrrlaaahhhh ms ky gt??g d romantis2nyaaa.. Hukz.... *slh fkus*

    BalasHapus
    Balasan
    1. lhoooo romantis kae... langsung ke buapaknya. wekekeekekekekekekekek

      Hapus
  8. lah ni endo ngomong kl belum lunas gak bakal balikin rima, lah pas dibalikin masih tersegel gak ndo??? kl rusak musti dibeli lhoo.... nah yo... tanggung jawab.. ihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. haiiiyyyaaaa...bisa diatur itu haaaa.... yang penting kartu garangsi masi ada haaaa..

      *ngarep gak dilempar sendal koko.... wakakakakkakakakakak

      Hapus
  9. ah Diva ini... udah tahu kalau Endo suka ama Rima, kok malah dihalang2in sih.. ckckckck.......... grrr..... gr.....

    btw makasi ya Jeng. ihihiihi... br sempet main kesini :kecup basah:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kembali mba shin,,,nah lho aku yg jawab di toyorrr ma mba rike,,,,


      Idem ma mba shin,,,maaf mba baru maen kesini mba rike,,,kabur drpd kena spank mba rike,,pelukkk plus ciummmm mmmuahhhh

      Hapus
    2. wekekekekekekeek... DIva terobsesi sama Rima... akakakakakakakak

      mbaaakkk tuteeeexxx...
      *spank bokong semox

      Hapus
  10. Thx mba rike,,,what's hepen with u endo,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahh no what..what kok mbak... ekekekeekekekkekekek

      Hapus
  11. Ish... Aye masih bingung pake blog ternyata bab 4 udah update. Muahahahahaha...

    Okeoke... Mari mengencani Endo dan menendang jauh-jauh Rima. *ini pembaca anarkis* Buahahahahaha...

    Ish, aye suka bule... Suka! Suka! Suka!

    BalasHapus
    Balasan
    1. nhaaa... ini orangnyaaa... jeeeenggg... banyakyang nanya mau masuk blok gapeng neeee... (seenaknya nyingkat nama blog orang)
      teman-temiiinn.. ini dia yang punya blog gadis pengasong piksi....
      silahkan ditarget invitasinya yuaaaa.... akakaakakakakakakakakaakakakakakak
      *ketawa setan

      Hapus
    2. hahahhaaa
      tragis tenan nasibnya edo..dah kena gampar msih jga kena cium spatunya diva.
      hmm...cba aku jdi shabatnya rima bakal ta lempar ke laut tu si edo biar skalian dmakan hiu. #sadisbeuuttt

      Hikz...diva 1/2 jahat deh sma endo..
      wong endonya dah cinta BGT sma rima tp, kog dihalangi??(˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ)

      Sejauh ne critanya NO COMMENT deh..thumb up buat authornya.
      smangat y sis ngelanjut critanya...
      ♪┏(・o・)┛♪┗ ( ・o・) ┓♪┏ (・o・) ┛♪┗ (・o・ ) ┓♪┏(・o・)┛♪

      Hapus
    3. mba mariaaaa..undang undang ke blog nya duongssss hihi..

      Hapus
    4. Silakan kirim emailnya ke saya. Muahahahaha...

      *masih belajar pake blog ini...

      Hapus
  12. Jeng rik...
    Tolong sampaikan ke endo... Ai lop endo pull deh..:)


    Maria... Tolonglah invite daku ke blog mu...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan kirim alamat emailnya ke saya.

      *aye lagi belajar ng-blog. Hihihihi

      Hapus
  13. wow.. anteRik hehehe...
    siapa yah kemarin yang bilang kalo mau update hari senin?
    tapi bagus deh klo akhirnya di post lebih cepat hohoho lup yu dah ante ;)


    itu knp si Diva ga ngmong aja c kalo Endo udh suka dia dari SMA??

    BalasHapus
  14. endo aku juga mau dikawin kontrak *ehhhh.... thanks mbk rieke diah pitaloka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngok.... sama sapa hayooooo...ekekekekekekekekekekekekek

      Hapus
  15. kawin kontrak bab 5 kapan nggak sabar ah

    BalasHapus
  16. wkwkwkwk... lucu banget.... apalagi pas si tio dihajar sama papa rima n diva... si endo keren deh... langsung ngo sama papanya mira buat nikah ma mira...

    BalasHapus