Senin, 23 September 2013

Kawin Kontrak - Bab 22



BAB 22
ENDO


“Jadi, apa yang mau Anda bicarakan?”
Seorang pria dengan perut buncit menyapa Endo yang baru saja datang di tempat pertemuan mereka. Endo yang datang bersama Lukas hanya tersenyum melihat pria itu duduk bersebelahan dengan asistennya yang sangat seksi. Bahkan Endo bisa menduga kalau asistennya itu sebenarnya kekasih gelap pria di depannya ini. Sebelum duduk, Endo mengulurkan tangannya demi menyapa dan sekedar berbasa-basi dengan pria itu.
“Pak Burhan, terimakasih sudah mau memenuhi pertemuan ini,” ujar Endo sembari menjabat tangannya kemudian duduk di depan pria itu.
Burhan terkekeh mendengar sapaan Endo.
“Apa yang Anda inginkan, Mr Endo? Sepertinya masalah yang sangat penting, mengingat asisten anda sudah membuat janji dengan saya sekitar 2 minggu yang lalu. Kenapa kita tidak sekalian langsung bertemu di rapat pemegang saham saja? Kapan itu jadwalnya Mit?” tanya si gendut Burhan kepada asisten wanitanya.
“Dua minggu lagi pak!”
“Itu dia, 2 minggu lagi,” lanjut Burhan.
Endo tersenyum mendengar semua perkataan Burhan. Dia menoleh sebentar ke arah Lukas ketika seorang pelayan datang dan mengatakan pesanan yang dia mau.
“Saya kesini mau membahas tentang anak anda, Pak Burhan” jawab Endo sembari membetulkan letak duduknya.
“Anak saya? Bima atau Tiara?”
“Saya mau membahas tentang Tiara.”
Burhan tertawa keras dan itu sempat membuat kaget asistennya, begitu juga Lukas. Sementara Endo tetap terlihat sangat tenang dan menatap Burhan tanpa gentar.
“Kamu mau kembali dengan Tiara? Apa ini salah satu rencanamu untuk memintaku memihakmu saat rapat pemegang saham, Mr. Endo?”
Lukas mendesis kesal mendengar kata-kata Burhan barusan. Pria ini merasa berada di atas angin saat ini. Pertunangan Diva dan juga Bima membuatnya menjadi salah satu pesaing berat Endo. Belum lagi, hasutan-hasutannya kepada para pemegang saham yang lain yang bisa saja membuat posisi Endo semakin terancam.
“Saya sama sekali tidak memikirkan hal itu, Pak. Buat saya, posisi saya saat ini tidak akan bisa digantikan siapapun saat ini,” jawab Endo dengan sedikit kesombongan dan itu membuat Burhan sangat gusar.
“Kau jangan lupa, kebocoran model di perusahaan konveksi itu bisa membuat posisimu hilang. Apa kau tahu berapa kerugian yang akan kita terima? Sangat besar! Perusahaan itu menyumbang hampir 35% dari keuntungan grup kita. 35% bukan jumlah yang sedikit! Dan bagaimana bisa kau masih sombong seperti itu?” ujar Burhan sangat gusar.
Endo tersenyum sinis mendengar semua perkataan Burhan. Bahkan saat pelayan datang membawakan pesanannya, Endo masih tetap menatap Burhan dan tersenyum kepadanya.
“Apa itu yang anda katakan pada setiap pemegang saham? Saya dengar Anda mendatangi para pemegang saham dan menyebarkan desas-desus itu kepada mereka.” Ujar Endo saat pelayan itu sudah menyingkir pergi.
“Kau punya bukti?” tanya Burhan percaya diri.
“Tidak,” jawab Endo tenang dan sebuah senyuman kemenangan muncul di wajah Burhan, “Tapi saya punya bukti lain tentang usah merugikan perusahaan yang dilakukan anak Anda.”
Senyum kemenangan itu menghilang dari wajah Burhan berganti dengan rasa terkejut.
“Apa maksudmu?” tanya Burhan dengan nada kalut.
“Apa anda tahu bagaimana bisa model yang akan muncul dari perusahaan bisa bocor?” tanya Endo dan di jawab dengan keheningan. “Ada orang dalam yang berkhianat dan menjual semua model itu kepada perusahaan konveksi kecil lain. Itu membuat model kami akhirnya sdah bocor terlebih dahulu di pasaran. Setelah penyelidikan hampir selama sebulan yang lalu, akhirnya kami menemukan siapa pengkhianatnya.”
“Itu…”
“Seorang wakil manajer bagian desain, atau bisa saya sebutkan namanya, Tiara Hakim. Dia yang menjual semua model itu dan banyak saksi yang mengetahuinya. Dia punya kekuasaan untuk membawa semua contoh model dan juga menjualnya kepada perusahaan lain seandainya model yang di keluarkan dirasa tidak relevan,” lanjut Endo.
“Kau menggertakku, Mr Endo!” jawab Burhan ketakutan.
Endo mengulurkan tangannya ke arah Lukas dan tak lama sebuah map berisi berkas-berkas sudah berada di genggamannya. Dengan satu ayunan, Endo melempar map itu ke atas meja, persis di depan Burhan.
“Itu semua berisi copy laporan tentang masalah ini, juga bukti-bukti yang bisa memberatkan semua kesaksian anak Anda nanti di pengadilan.”
“Pengadilan? Kau mau membawa masalah ini ke pengadilan?” Burhan terpekik mendengar perkataan Endo.
“Kenapa? Apa Anda takut kalau masalah ini terbongar? Anda takut kepercayaan semua relasi anda berkurang karena masalah ini?” tanya Endo mengejek.
Burhan menggeram marah mendengar semua perkataan Endo. “Apa maumu?”
“Mau saya?” Endo terkekeh perlahan, “Apalah arti saya, Pak Burhan. Saya cuma seorang CEO yang kata anda sedang terancam posisinya saat ini di dalam perusahaan.”
Sekali lagi Burhan menggeram. Kali ini keringat mulai muncul dari por-pori wajahnya. “Katakan maumu!”
Lukas membisikkan sesuatu kepada Endo, dan itu membuat Endo melihat ke arah jam tangannya. Kemudian dia kembali menatap Burhan.
“Saya tidak menginginkan apa-apa. Kemajuan perusahaan ini lebih penting bagi saya saat ini. Apalagi perusahaan in merupakan amanah almarhum Kakek dan juga Ayah saya,” jawab Endo. Dia membenahi jas yang dipakainya sebelum berdiri, “Maaf, saya harus pergi. Masih banyak hal yang harus saya lakukan.”
Endo berdiri dan bersiap untuk pergi dan diikuti Lukas di belakangnya.
“Tunggu!” panggil Burhan Hakim, “Aku sangat mengerti maksudmu. Aku akan melakukan apa maumu!”
Endo menoleh ke arah Burhan kemudian kembali tersenyum, “Terimakasih atas pengertian Anda, Pak! Salam untuk Bima dan juga Tiara.”
****

Endo terkejut melihat Diva duduk di dalam ruangannya. Gadis itu tampak lega melihat Endo yang ahirnya muncul. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dia bisa bertemu dengan Endo.
“Kalau kamu memintaku untuk kembali ke Rumah Sakit, aku menolak! Aku sudah sangat baik sekarang!” ujar Endo sembari berjalan ke arah mejanya.
Diva mencibir ke arah Endo.
“Nggak usah GR! Aku malah seneng kamu nggak ada di Rumah Sakit! Aku ke sini cuman mau bilang kalau kamu nggak perlu khawatir Papa bakalan berusaha ngelawan kamu dan bersekutu sama keluarga si Burhan!”
Endo menatap Diva heran.
“Gimana mungkin itu terjadi?” tanya Endo.
Diva tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan teratur.
“Mama kemarin pulang dan coba kamu tebak!”
“Tante bawa oleh-oleh obat saraf buat otakmu,Di?”
“Kampret! Bukan!” sentak Diva kesal, “Mama mengamuk waktu tahu Papa seenaknya mau menjodohkanku sama si Bima itu! Bahkan ngancem Papa buat misahin saham bagian Mama dari saham Papa. Dan sekarang, akulah pemegang saham atas nama mereka berdua!”
“Oooh,” jawab Endo santai.
“Kamu nggak seneng, Ndo?” tanya Diva penasaran melihat ekspresi sepupunya yang datar itu.
“Biasa aja. Si Burhan nggak akan berani macem-macem sama aku selamanya mulai saat ini. Kita tadi bahkan sudah ketemuan.”
“Kok bisa?”
Endo melirik ke arah Diva dan tersenyum mengejek. Itu membuat Diva semakin emosi dan matanya makin melotot menatap Endo.
“Katakan saja, aku memegang rahasianya!” jawab Endo seadanya dan mulai duduk di kursinya. “Sekarang sana keluar, aku mau lanjut kerja lagi!”
“Awas aja kalo kamu nggak kasih tau aku nanti!” ancam Diva sembari mengambil tasnya dan melangkah menuju pintu keluar.
“Diva!” panggil Endo sebelum Diva membuka pintu kantornya. Diva menoleh ke arah Endo dan melihat sepupunya terlihat kebingungan. “Maaf…”
“Untuk apa?” tanya Diva bingung.
“Untuk semua yang sudah aku katakan. Sepertinya kamu benar, aku adalah sosok egois,” jawab Endo. Diva tersenyum dan memutar ganggang pintu ruangan Endo. “Katakan pula pada Rima.”
“Aku nggak tahu dia dimana, Ndo. Aku sudah pernah bilang kan?” jawab Diva.
Endo tersenyum miris.
“Aku cuma berharap.”
****

Seorang wanita dengan gaun panjangnya menyanyi dengan suaranya yang sangat merdu malam itu. Hanya ditemani dengan seorang pianis, wanita itu mampu menghipnotis seluruh pengunjung Cafe malam ini. Sesekali wanita itu memejamkan matanya ketika mencapai nada-nada tinggi dan kembali membuka membuka matanya sembari tersenyum ketika selesai menyelesaikan nyanyiannya.
Dan di sinilah Endo terdampar malam ini. Di tengah Cafe yang cukup lengang dan menunggu tim dari divisi kreatif di perusahaan konveksinya. Sebetulnya waktu untuk pertemuan itu masih cukup lama, tapi Endo memutuskan untuk datang lebih dahulu. Menghabiskan waktunya di cafe daripada di apartemennya. Hampir 2 bulan dia tidur sendiri di apartemennya setiap pulang dari kantor. Selama 2 bulan itu dia memilih untuk pulang dalam keadaan sangat lelah dan juga larut agar terlepas dari waktu mengulang semua kenangan bersama Rima di apartemennya. Dan hari ini semua urusannya selesai sangat cepat.
Penyanyi di atas panggung itu menyelesaikan nyanyiannya kemudian mengucapkan terimakasih untuk kemudian turun dan meninggalkan panggung untuk setengah jam ke depan. Ketika penyanyi itu turun dari panggung, Endo melihat pianisnya juga mengikuti penyanyi itu, tapi kemudian dia berbelok ke arah Endo.
“Bagaimana kabarmu?”
Endo melirik sepintas ke arah pianis itu dan kemudian teringat akan wajah yang ada di depannya.
“Kamu kerja di sini?” tanya Endo sinis melihat pianis itu.
Tanpa di suruh, pria itu duduk di depan Endo dan tersenyum. Seakan sama sekali tidak masalah dengan semua perlakuan Endo.
“Bagaimana kabar Rima?” tanya pria itu lagi.
“Itu bukan urusanmu sama sekali sekarang ini…Tio!” jawab Endo malas dan berpikir cara untuk mengusir pria di depannya.
“Iya, kamu bener! Aku cuma mau minta maaf buat semua kelakuanku dulu. Sepertinya aku sudah buat banyak masalah buat keluarga kalian, terutama istrimu. Sekarang aku sudah menikah dengan Lea. Kamu tahu kan? Lea…”
“Wanita yang sudah kamu tiduri kemudian hamil itu? Yang mengaku sebagai sahabat Rima, tapi ternyata…”
“Ya…ya…Lea yang itu. sekarang dia sudah berubah. Aku juga berharap demikian. Maaf, mungkin aku mengganggumu. Hanya saja aku tadi melihatmu dan kupikir inilah saatnya untukku meminta maaf kepadamu dan juga Rima.” ujar Tio merendah, kemudian matanya seakan mencari-cari, “Mana Rima? Apa dia kabur dariku lagi? Tolong katakan padanya bahwa aku minta maaf dan tidak akan pernah mengganggunya lagi.”
 Endo terdiam mendengar semua ucapan Tio yang baru saja dia katakan. Mata pria itu terlihat jujur dan itu sangat menggoda  Endo untuk bertanya, “Kamu serius?”
Tio mengerling ke arah Endo kemudian tersenyum. Sekali lagi Endo merasakan kejujuran dari semua bahasa tubuh pria itu.
“Sangat serius. Aku mulai mencari pekerjaan yang mapan, berusaha menyelesaikan kuliahku dan bekerja part-time untuk menambah simpanan persalinan Lea nanti, setelah semua kekacauan akan hidupku dulu. Maaf, sepertinya aku membuat Rima sulit kembali saat ini. mungkin sebaiknya aku pergi.”
“Dia sedang tidak bersamaku,” jawab Endo lugas. Hatinya kembali nyeri memikirkan Rima. “Aku menunggu stafku di sini.”
“Oh ya? Selamat menikmati malammu kalau begitu,” ujar Tio sembari bersiap berdiri meninggalkan Endo.
“Tunggu!” sergah Endo saat Tio hendak meninggalkannya. Endo berharap untuk tidak menanyakan hal ini, tapi dia begitu penasaran, “Apa kamu bener-bener cinta sama Rima?”
Tio menatap Endo tak bergeming beberapa saat, seakan tak percaya akan pertanyaan Endo. Kemudian dia menarik nafas panjang sebelum menjawabnya.
“Dia wanita yang sangat pantas untuk di cintai pria. Aku sangat bodoh melepaskannya dan berpikir fisik adalah segalanya,” jawab Tio.
“Dia cantik!”
“Sangat cantik. Wajahnya sangat sulit dilupakan ketika dia sudah pergi meninggalkanku. Membuatku menjadi pria yang terjebak dengan depresi dalam beberapa saat,” ujar Tio yang membuat Endo tertegun. “Tapi aku sudah sadar sekarang, kalau dia berhak bahagia dengan pilihannya. Bagaimanapun juga, aku harus membahagiakan wanita lain yang sudah menjadi tanggung jawabku.”
“Kamu rela melepaskan dia?” tanya Endo ragu-ragu.
“Dia wanita yang baik. Dia berhak mendapatkan pria baik sepertimu,” jawab Tio kemudian pergi meninggalkan Endo sendiri. Tak lama dia berbalik dan melambaikan tangannya, berpamitan kepada Endo.
Endo membalas lambaian tangan itu singkat dan berbisik, “Tapi dia pergi meninggalkanku juga.”
Hampir saja Endo kembali memikirkan Rima seandainya saja beberapa anak muda yang diikuti Lukas, tidak menyapanya dan mendatanginya. Ketika mereka datang, seketika cafe yang sepi berubah menjadi sangat ramai. 
“Kita berhasil Bos! Cara yang Bos instruksikan bener-bener bisa menyelesaikan semua masalah ini!” ujar salah seorang diantara mereka kegirangan.
“San, yang sopan! Panggil Pak Endo, jangan Bas-Bos-Bas-Bos! Maaf Pak, Sandi memang mulutnya nggak ada rem-nya!” jawab satu-satunya wanita di kelompok itu.
Endo hanya membalas dengan senyuman dan menunggu  ketiga pria maupun satu wanita itu untuk duduk.
“Jadi, gimana hasil kerja kalian?” tanya Endo santai dan tak lama salah seorang pria lain mengeluarkan sebuah map dari ranselnya kemudian memberikannya kepada Endo.
“Respon pasar sangat menerima produk ini, Pak! Bahkan sejauh ini, produk kita sudah jadi target PO!”
“Analisismu sangat menarik, In! Bagaimana dengan contoh model yang kemarin aku setujui, Tika?”
Satu-satunya wanita di dalam kelompok itu memberikan tablet yang dia punya dan Endo langsung mengambilnya. Tampak beberapa foto model dan juga pakaian-pakaian yang membuat Endo sangat puas ketika dia selesai menggeser-geser layarnya.
“Saya dan Sandi kemarin sudah menyelesaikan salah satu peragaan busana dan hasilnya sangat menakjubkan. Sangat sesuai dengan laporan yang Indra buat, Pak!” jawab Tika, satu-satunya wanita di dalam tim itu.
“Sepertinya tim desainermu sangat bertalenta. Kalian semua akan mendapatkan promosi. Aku jamin itu!” balas Endo sembari kembali melihat lembaran analisis dari Indra.
“Itu karena anda sudah memberi kami kesempatan besar, Bos! Saya kira, hidup kami akan berakhir menjadi kacung ketika di bawah kepemimpinan Bu Tiara, “ lanjut Sandi tiba-tiba. Tak lama terdengar suara mengaduh ketika Tika menyodok perut Sandi.
“Pak, boleh saya bertanya?” tanya Tika tiba-tiba dan Endo langsng menengadahkan kepalanya dari berkas-berkas milik Indra, “Kenapa Anda tidak memakai desainer kawakan saja? kenapa malah memilih kami?”
“Memang tim kalian bukan desainer kawakan?” tanya Endo tak acuh dan kembali membaca berkas-berkas di tangannya lagi.
“Kita masih anak bau kencur, Bos!” jawab Sandi cepat kemudian sekali lagi mengaduh karena injakan Tika di kakinya.
“Pak! Panggil Pak Endo, San!” bisik Tika.
Endo terkekeh, kemudian menggeleng.
“Panggil saja aku sesukamu!” jawab Endo kemudian mengambil tablet milik Tika, dan menunjukkannya ke arah mereka, “Bagian mana menurut kalian yang merupakan rancangan dari anak bau kencur? Aku memiliki HRD yang sangat  kompeten di tiap anak perusahaanku, dan kalian adalah orang-orang yang sangat kompeten bagiku.”
Senyum terkembang dari wajah-wajah di depannya. Sekali lagi, Endo mampu mengambil langkah yang menurutnya sangat tepat. Dan hasilnya melebihi dari yang dia pikirkan selama ini. 
“Lu sih, pake nanya segala alesan Bos pake desain kita!” seloroh Sandi sembari menyorong kepala Tika.
“Lu gak liat waktu Pak Endo nolak tawaran rekanan bisnisnya sih! Dia nawarin Joe Tan, San! Joe Tan desainer terkenal itu!” jawab Tika sebal.
“Hah? Bos nolak Joe Tan dan lebih percaya sama kita-kita ini?” tanya Sandi tidak percaya dan dibalas senyuman Endo. “Bos, biarkan saya ngikutin Bos sampai akhir hayat saya!”
 Lebay Lu!” potong Indra sembari mengejek ke arah Sandi.
Perkataan Sandi membuat Endo kembali teringat akan wajah kecewa Sofi. Beberapa kali Sofi memaksanya menerima tawarannya, tapi dia masih menolak. Instingnya memaksa dia menolak tawaran dari Sofi dan sepertinya instingnya menuntunnya menemukan orang-orang yang tepat dari dalam perusahaannya sendiri.
“Lukas, gimana hasil penyelidikanmu soal logo stempel yang aku berikan itu?” tanya Endo kepada Lukas yang sedari tadi duduk diam memperhatikan anak-anak muda di sekitarnya.
“Sudah saya selidiki,” ujar Lukas sedikit terperanjat, “Dan tepat seperti dugaan anda, Pak! Logo itu memang milik salah satu anak perusahaan dari perusahaan keluarga yang Anda maksudkan.”
Endo menghela nafas berat mendengar semua perkataan Lukas.
“Besok, buatkan aku janji sebelum rapat pemegang saham dimulai.”
****

13 komentar:

  1. yaaaahhhh koq udah abis lg...hiikkkssss pendek amat rasanya mbak rik...#reader tak tau trima kasih# maapkan hehehe makasih mbak postingnya tp tetep kurang mbak...tambah...tambah...tambah#demo depan rumah mbak rike dilempar sapu...kabooorr...

    BalasHapus
  2. Wah makin seruuuuuu..... Ayo lagi mbak update..

    BalasHapus
  3. Mba , Rima-nya mana sih? , penasaran bet nih aku

    BalasHapus
  4. Mbak, ak biasanya silent reader aja...salam kenal ya...suka banged ama cerita ini...tapi penasaran banged nih :-s menunggu seminggu lagi aw~ *super penasaran...
    Eniwey tengkiyuh :)

    BalasHapus
  5. Kok pndek?:(:'(
    Kmna Rima???:'(

    BalasHapus
  6. rimax blm ada juga...kangen sama rima....

    BalasHapus
  7. bacanya sambil bengong.. maklumlah mbak, aku gak paham sama sekali tentang bisnis, saham, kerja perusahaan, dll.. hehe.. ;D
    makasih mbak rike, selalu dinantikan kelanjutannya.. ^_^

    BalasHapus
  8. mbak......
    lanjutanya dunk...
    sgera dipost...
    *nglunjak*

    BalasHapus
  9. ke..rike...
    lanjutannya mana yak?

    BalasHapus
  10. Mbak, kok msih blm ad lnjutanny?:(

    BalasHapus
  11. lagi mbak rikeeeeeeeeeeeeeeeee....... aku menunggguuuuuuuuumuuuuuu

    BalasHapus
  12. Kangen berat baca novel ini T.T

    BalasHapus